Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #20

Kenangan Masa Lalu Yang Hampir Hilang.

"Ajak dia masuk dan obati lukanya!" kata Romy pasrah. Lalu menyuruh Tiana melepaskan tangannya. Gadis itu menuruti, Mike bernapas lega. Lukanya cukup banyak membekas di wajah. Bahkan pelipisnya hingga robek. Tetesan darah sedikit menutupi wajah tampan pemuda bule itu.

Kemudian, Romy berhenti melangkah sambil .... "Tapi ingat, saya gak menghukum kamu lagi bukan berarti saya setuju dengan rencanamu itu. Saya hanya gak ingin ada orang mati di depan rumah ini!" Berkata dengan penekanan sangat jelas pada Mike. Pemuda itu terdiam lesu, sepertinya, perjalanan dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya akan sangat panjang. Akan sangat panjang juga perjalan dia untuk mendapatkan cinta Tiana.

Tiana hanya tersenyum getir. Pemuda itu tersenyum, lalu ikut melangkah dan melewati Tiana sebagai tuan rumah. "Mau ngapain lu?" Dia menarik lengan Mike dengan tatapan sinis. "Main nyelonong masuk!"

"Kan katanya elu mau ngobatin luka-luka gue?"

"Kata siapa?" Mata Tiana tambah melebar.

"Bokap elu tadi," sergah Mike membela diri. Dia tampak seperti orang bodoh yang lagi kebingungan.

"Jangan kepedean." Debat Tiana.

"Lho, kok ... kepedean? Kan elu dengar sendiri, bokap elu bilang apa tadi." Mike sedikit ngotot, pemuda itu masih ingin berada di rumah Tania dan masih ingin mengobrol dengan gadis itu. Masih banyak hal yang perlu dia bicarakan selama keduanya sepakat menjadi musuh yang tak saling mengenal.

"Gak ada - gak ada," sergah Tiana. "Udah elu pulang aja sana. Udah malem, dan gue capek!" Gadis itu membalikkan tubuh Mike dan mendorongnya agar segera pulang. Lalu dia menyuruh Mike memakai jaket dan helmnya.

"Tapi Ti, elu gak kasihan sama gue? Lihat nih, muka gue penuh luka-luka!" katanya memelas, sambil menunjuk beberapa titik bagian luka di wajah. Tiana tidak mempedulikan ocehan Mike.

"Itu derita lu."

"Kok, elu tega banget sih, Ti? Nanti kalau gue mati di jalanan gimana?"

"Gak peduli! Semua itu salah elu sendiri, gue udah bilang sama elu tapi tetap saja nekat buat bicara ke bokap tentang kejadian kemarin malam," sergah Tiana dengan nada ketus. Dia sudah terlanjur kecewa dengan sikap Mike barusan. Saat ini, dia tidak ingin berdebat atau berbicara panjang lebar tentang apapun dengan Mike. Tubuhnya sudah terlalu lelah dan ingin segera tidur nyenyak. Sebab, sudah terlalu banyak kejadian yang menimpanya hari ini dan dia tidak mau ada masalah baru muncul di kehidupannya.

"Jangan gitulah, gue kan calon suami masa depan elu." Mike menekuk lutut di hdapan Tiana. Berdiri dengan wajah sedih, memohon agar dikasihani untuk masukk ke rumahnya.

"Mimpi! Siapa juga yang mau nikah sama elu!" tandas Tiana melengos. Jutek. Merasa jijik melihat wajah Mike.

"Ingat, hubungan kita sekarang masih berstatus musuh. Jadi, jangan coba-coba merencanakan sesuatu gila kayak tadi." Tiba-tiba mata gadis itu sedikit terbuka sambil memasang wajah serius. "Kalau gak, Gue gak akan maafin elu selamanya dan gak pernah mau peduli lagi apa yang terjadi nantinya sama elu!" tegasnya dengan nada ketus. Dia membalikkan tubuh Mike

"Elu dendam sama gue?"

Lihat selengkapnya