Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #21

Bila Hati Sudah Memilih.

Tiana serius mengobati Mike. Tangan itu terampil mengobati luka-luka lembam di wajah tampan pemuda bule. Mike diam, namun mata indah berbulu lentik sesekali melirik wajah cantik nan ayu milik Tiana. Wajah asli Indonesia dari suku sunda. Kadang, Mike juga sering mendapati gadis itu tersenyum. Masa-masa indah membuat ia puas melihat wajah ceria gadis itu.

Lalu, "Apa tadi Febian mengganggu elu?" tanya Mike memudarkan kesunyian di antara keduanya. Tiana berhenti fokus mengobati, tangan dia turunkan setelah selesai memperban luka Mike di pelipis.

Gadis itu terdiam, hanya suara hela napas yang terdengar keras. "Bukan urusan elu, Mike!" Ia berusaha menyembunyikan masalah tadi pada Mike. Bagi dia, baik Mike dan Febian sukar dibedakan sifatnya, sama-sama memandang dia sebagai alat pemuas n*fs*.

Tiana berdiri, hendak menaruh kotak obat di tempat semula. "Tunggu!" Mike cepat menggapai tangan Tiana. "Gue kenal mobil di persawahan tadi, itu mobil Febian kan?"

Ucapan Mike benar, tetapi Tiana enggan membahas. Sebab, dia tidak tau siapa yang harus dipercaya sekarang. Keduanya menginginkan tubuhnya saja, bukan murni sebuah persahabatan yang membuatnya nyaman. Apalagi tentang cinta, semua jauh dari harapan yang pernah Mike atau Febian nyatakan padanya.

"Sudah malam, lebih baik elu pulang!" tandas Tiana.

"Apa elu harus berdiam seperti ini? Bahkan dia telah menjebak kita berdua? Elu bisa memaafkan dia walau dia sudah melakukan hal buruk sama elu, Ti?"

"Apa bedanya sama elu, Mike?" tanya balik Tiana menghujam hati Mike. Gadis membalikkan tubuhnya, tatapan sinis ia sengaja perlihatkan pada Mike. "Bukankah kalian berdua gak ada yang bisa dipercaya. Hanya ingin sesuatu penting yang aku punya, lalu membuang bagai sampah yang tak terpakai!" ujarnya. Hatinya sangat perih kala ia mengatakan kalimat-kalimat tadi.

"Maaf, tapi semua itu karena--"

"Sudahlah, Mike jangan dibahas lagi. Gue capek, mau istirahat. Silahkan elu pulang dan jangan ganggu gue lagi!" potong Tiana.

Mike tertunduk lemas. Ia tidak bisa menolak pengusiran Tiana terhadap dirinya. Mike berdiri, meraih helmnya. Berjalan sebentar, dilangkah ketiga dia berhenti.

Lihat selengkapnya