Di sebuah klinik desa. Beberapa pasien sudah mengantri. Hal itu membuat suster yang ikut membantu di klinik desa tampak bingung, sekaligus kewalahan menghadapi pasien-pasien yang sudah menanyakan dokter Irana. Hampir satu jam lebih para warga menunggu dokter Irana.
Suster sudah berkali-kali telepon dokter Irana, tetapi, panggilan itu hanya terjawab oleh mesin penjawab panggilan. Wanita berpakaian putih-putih mulai putus asa.
"Aduuh, ke mana ya, bu dokter? Kenapa teleponnya mati? Mana pasien udah banyak dan gak sabaran!" gumamnya berkeluh kesah sendirian di meja pendaftaran pasien. "Tin, Tinaa ...." panggilnya pada asisten yang bertugas di ruangan dokter. Wanita muda agak gemuk berjalan keluar. Tergopoh-gopoh.
"Ada apa Bibi Rani?" sahutnya. Suster bernama Rani itu menoleh.
"Sini, kamu jadi di sini. Bibi mau pergi ke rumah bu dokter dulu, takut beliau belum bangun!" jelas Rani meminta Tina menggantikan di meja penerima pasien. Perempuan berusia 20 tahun itu mengangguk. Rani bergegas pergi.
Berulang-ulang dia mencoba menelepon dokter Irana. Sayangnya, panggilan itu tidak aktif. Suara mesin penjawab yang terdengar di telinga Rani. Kecemasan sudah menyelimuti wajahnya, tegang, kuatir. Sebab, Irana tidak pernah terlambat seperti ini. Bahkan, ia selalu lebih dulu datang sebelum dia datang.
"Dok, kok tumben sih, teleponnya gak aktif. Anda ke mana? Dan ada apa?" gumamnya, menekan dan menekan tombol bergambar telrpon berwarna hijau. Akan tetapi, semua nihil, tidak ada jawaban dari dokter Irana.
Dari kejauhan, Romy berjalan membawa tentengan plastik. Matanya tiba-tiba menyipit, "Suster Rina?" gumamnya selepas ia mengenali sosok Rina di depannya. Ia berjalan bergegas menghampiri. "Suster?" panggilnya pada suster Rina yang sibuk dengan ponselnya.
"Pak Romy?" sahut suster Rina mendongak.
"Ada apa? Kayaknya suster sedang bingung?" Romy menelisik ekspresi wajah itu. Serius, tak seperti biasanya wanita itu berbicara sambil melihat layar ponsel. Biasanya, suster Rina selalu menghentikan kegiatannya bila ada yang mengajaknya mengobrol.
"Aah, ini Pak, saya lagi bingung, bu dokter dari tadi saya teleponin gak diangkat-angkat. Jam segini beliau belum dateng juga ke klinik!" Cerita suster Rina bingung.
"Dokter Irana belum datang ke klinik?"
Suster Rina mengangguk.
"Kok bisa? Biasanya kan gak pernah begini?"
"Justru itu, Pak, saya juga bingung!" jawab suster Rina menggaruk kepalanya yang tidak berasa gatal itu.
"Kamu tau, kapan dia pulang semalem dan sama siapa dia pulang?"