Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #23

Mencari Dokter Irana Yang Hilang (Bag. 2)

Kemudian, di gedung tua. Sinar matahari menyelinap masuk di antara jendela-jendela yang memang sudah tidak ada kacanya. Detik itu juga, kelopak mata dokter Irana mulai mengerjap. Pelan-pelan terbuka oleh sinar matahari yang menyilaukan matanya. Tidur dengan posisi menggelantung membuat rasa sakit di sekujur tubuh amat menyiksanya. Hampir seluruh tubuh nyeri. Dokter Irana sedikit merintih kala beberapa bagian tubuhnya terasa sakit.

Pagi itu juga, matanya disungguhi pemandangan menjijikan. Sosok yang membuatnya mual sudah ada di depan mata. Dahinya mengkerut, rahangnya sedikit melebar dan gigi-gigi putih itu gemerutuk. Febian duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Pagi bu dokter! Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Febian melambaikan tangan dengan santainya.

Bukan sambutan hangat yang diterima Febian, justru ... "Cuih!" Sebuah cipratan air liur membasahi wajah tampan Febian yang narsistik. "Cepat bebasin saya, brengsek!" teriak dokter Irana berteriak dengan makian. Pergelangan tangannya sudah kemerahan, gesekan antara tali tambang dengan kulit ari pergelangan tangan wanita itu membuatnya mengeluarkan darah.

Ekspresi Febian berubah mengerikan, matanya melotot tajam, mengerutkan dahi sambil memandang kesal pada dokter Irana. Ia berjalan mendekati perempuan berasal dari Jakarta itu. Lalu ....

"Dasar perempuan kurang ajar!"

Plak.

Menampar keras pipi kanan dokter Irana. Perempuan itu meringis.

Kemudian, menampar sekali lagi pipi dokter Irana. Sambil berkata, "Kau pikir, kau siapa, huh!" Tamparan kedua itu, Febian mengerahkan tenaganya jauh lebih keras hingga pipi perempuan itu terasa panas dan perih, hingga darah keluar dari celah bibir.

Febian tersenyum sinis setelah menampar dokter Irana, mengeluarkan sapu tangan dari saku belakang celananya. Ia mengelap air liur dokter Irana di wajah. "Kau ingin bebas, huh?" tanya Febian, ia membuang sapu tangan itu. Kemudian menekan kedua pipi dokter Irana. Perempuan cantik rambut sebahu itu hanya membungkam kata dalam bibinya yang terluka.

"Gue akan bebaskan elu." Berkata sambil menghempaskan tekanan jari-jarinya di wajah dokter Irana.

Ekspresi dokter Irana terlihat senang, "Benarkah?"

Febian mengangguk, "Tapi hanya di dalam mimpimu saja, Bu Dokter!!" Berkata sambil tertawa sekeras-kerasnya, ia sangat menyukai melihat dokter Irana sengsara seperti ini.

"Brengsek!" Maki dokter Irana. "Aku harap kamu membusuk di neraka, Febian," umpatnya emosi. Febian mengabaikan makian dokter Irana, keluar dari gudang itu sambil menerima panggilan telepon yang sudah berdering dari tadi. "Dasar Iblis!" umpatnya meluapkan kekesalan sesaat tadi berdebat.

Lihat selengkapnya