"Benar saja dugaanku, pelaku penculikan dokter Irana adalah Febian!" tandasnya mengeratkan jari jemari. "Aku benar-benar tidak menyangka, dia akan berubah jahat seperti ini!" lanjutnya mengepal tangan lebih erat lagi, hingga urat-urat tangan Romy terlihat jelas. "Sebenarnya, ada dendam apa antara dia dengan dokter Irana?" pikir Romy bertanya-tanya. Sebab, setahu dia, Febian tidak ada sedikitpun dendam pada dokter Irana.
"Pak, jadi kita harus apa sekarang?" tanya Supri yang mendadak membuyarkan lamunannya.
"Aah... Kita ke arah sana, Pak!' tandas Romy menunjuk ke arah datangnya mobil Febian tadi. "Tapi tunggu sebentar, saya mau memberi kabar ini pada suster Rina," ujar Romy.
Hanya dalam beberapa detik, panggilan Romy segera di jawab suster Rina.
"Halo, Pak Romy! Gimana? Sudah ada hasilnya?" tanya perempuan berusia 35 tahun itu bersemangat.
"Halo Suster Rina, kami sudah menemukan jejak dokter Irana."
"Iya - iya ... terus, apa dokter Irana sudah ketemu, Pak?" selidik suster Rina mengumbar sedikit seulas senyum bahagia mendengar kabar dari Romy. Tangannya sibuk mencatat daftar pasien yang baru saja datang.
"Sudah, kemungkinan dokter Irana diculik oleh seseorang!" sahut Romy di tengah kebisingan suara kendaraan yang berlalu lalang melintasi dirinya dan Supri.
"Apa? Diculik? Lalu, siapa orang yang nyulik dokter Irana, Pak? Terus, apakah dokter Irana baik-baik saja? Orang yang menyuliknya udah ditangkap kan, Pak?" Wajah penuh senyum itu berubah menjadi mimik yang cemas. Pasien-pasien yang di depannya ikut terkejut oleh suara lantang suster Rina.
"Belum, tapi bisa dipastikan bahwa yang menyuliknya adalah orang desa kita juga," tandas Romy sedikit lebih kencang suaranya.
Suster Rina menggebrak meja, beberapa pasien terkejut, "Kasih tau siapa orangnya, Pak? Biar saya hajar orang yang berani nyulik dokter Irana!" Ujar suster Rina emosi.
"Tenang dulu, saya dan Pak Supri masih menyelidikinya," tandas Romy. "Lebih baik suster jangan memberitahu siapapun tentang hal ini, biar pelakunya gak kabur sebelum dokter Irana ditemukan dan lapor polisi!" lanjutnya mewanti-wanti.
"Baik, Pak. Nanti informasikan ke saya bila ada kabar lebih lanjut tentang dokter Irana!" kata suster Rina mengakhiri panggilan teleponnya.