Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #25

Di Depan Rumah Tiana.

Lalu, di balai desa. Tak seperti biasa, terlihat ramai penuh dengan warga. Mereka duduk di kursi masing-masing yang telah disediakan. Entah ada apa, tampaknya para warga tidak ada yang tau buat apa mereka dikumpulkan oleh Mila sebagai istri kepala desa. Semenjak suaminya dipindah tugaskan sementara ke desa, Mila yang membantu semua permasalahan di desa. Kadang, keputusannya di luar nalar dan tidak berkesinambungan.

Semua warga berbisik, bertanya-tanya, pertemuan yang disampaikan Mila terlalu mendadak. Tidak ada surat pemberitahuan sebelumnya, tau-tau, pengumuman dari balai desa menyuruh seluruh warga datang ke balai desa. Namun, di sana tidak ada Romy. Sosok itu tidak muncul, atau mungkin sengaja tidak diundang Mila.

Tak lama kemudian, Mila datang bersama Febian di belakangnya. Seperti biasa, Mila berdandan cukup mewah. Sebagai seorang istri Kepala Desa, dia selalu menempatkan diri dengan pakaian dan perhiasan mewah dibanding warganya. Tidak mau terlihat rendah di mata semua warganya.

Dia melenggang di depan para warga, lalu meletakan tas mewah edisi terbatasnya di meja. Febian mengikuti dari belakang, lalu berdiri di samping Ibunya. Mila menghela napas.

"Selamat pagi semuanya!" sapa Mila.

"Bu Mila, sebenarnya buat apa Anda mengumpulkan kami semua di balai desa?" tanya salah satu warga berceloteh sebelum Mila menyampaikan maksudnya. Warga itu penasaran.

"Iya Bu, kalau gak ada yang penting jangan suruh-suruh kami kumpul di sini pagi-pagi!" timpal lainnya.

"Kami juga mau masak dan mengerjakan perkerjaan yang lainnya," sambung warga lain ikut protes. Seketika saja suasana sudah menjadi riuh.

Bagi mereka, waktu saat ini adalah penting buat kelangsungan hidup mereka yang mengandalkan hasil pertanian, perkebunan dan tambak buat kebutuhan hidup yang semakin sulit.

"Semuanya diam dulu!" Mila mencoba menenangkan kebisingan para warga. "Baik, saya akan mengumumkan sesuatu yang penting pada kalian!" serunya ketika suasana sudah agak hening.

Suasana kembali riuh. Sekali lagi, semua warga berbisik-bisik penuh tanda tanya. Biasanya, bila ada sesuatu yang penting di desa, Kepala desa akan memberitahu warga melalui surat, tetapi sekarang, Mila mengumpulkan warga untuk mendengarkan pengumuman penting darinya.

"Sebenarnya ada apa, Bu Mila?" Seorang bapak-bapak berkepala plontos tidak sabar dengan hal penting itu.

"Iya nih, Bu kepala desa, jangan berbelit-belit begitu. Langsung ke intinya saja!" Yang lain ikut menimpalinya.

"Baik-baik, saya akan memberitahu kalian semua," kata Mila. Sekali lagi dia menenangkan para warga yang berisik. "Saya mau beritahu kalian, bahwa desa kita sudah dikotori oleh seorang gadis di desa ini?"

Semua terkejut mendengar informasi dari Mila. Suasana dalam ruang pertemuan balai desa tak henti-hentinya berisik oleh gumaman-gumaman warga yang hadir. Semua mulai menduga-duga siapa gadis yang belum dikasih tau namanya oleh Mila.

"Memangnya siapa perempuan gak tau malu itu, Bu Kepala Desa?" tanya salah seorang wanita berkulit agak kehitaman dengan daster berwarna kemerahan.

"Iya nih, kenapa sih, Bu, berbelit-belit kayak gini. Kita kan juga banyak kerjaan di rumah," sambar yang lainnya tidak sabaran. Seolah waktunya sudah terbuang banyak oleh Mila yang terlalu banyak basa-basi.

Lihat selengkapnya