Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #26

Hasutan Febian dan Mila.

"Ya, itu saya, Ti! Kenapa? Kamu kaget kenapa saya tau masalah yang sedang kau tutup rapat ini?" tanya Mila bersikap angkuh, tatapan mata itu seolah sedang merendahkan Tiana di hadapan para warga. "Udah, kalian bawa saja anaknya itu. Kita arak keliling desa, biar semua orang liat agar gak ada lagi warga desa yang berbuat menjijikan kayak dia!" titah Mila sambil menunjuk Tiana yang masih menatap Febian.

"Kalau emang benar Tiana berbuat menjijikan, kenapa harus ditunda lagi? Ayo seret dia ke balai desa dan arak dia!" celetuk salah satu warga terlanjur emosi. Dia sudah termakan hasutan Mila. Warga yang lain ikut berteriak menyuarakan adili Tiana. Bagi mereka, gadis itu sudah bikin malu desa.

"TUNGGU!" teriak Tiana mencegah warga masuk membawa dirinya. "Kalian bisa membawa saya, asal ada bukti? Kalau gak ada bukti, itu namanya memfitnah saya!!" seru Tiana memberi perlawanan. "Ingat, saya bisa menuntut balik kalian yang gak bisa membuktikan saya melakukan hal menjijikan seperti yang kalian bilang!" lanjutnya bersikap keras untuk menahan para warga sebagai perlawanan.

Semua warga terdiam, kemudian berbisik tentang ucapan Tiana. Tak ada bukti yang mereka pegang sebagai landasan untuk memberikan hukuman. Ancaman Tiana juga sedang memberatkan warga menyeret Tiana ke balai desa untuk diadili.

"Hei ... Tiana, kamu sudah mengotori desa ini dengan perbuatannya yang menjijikan," sergah Mila tegas. "Sesuai aturan desa ini, siapa saja yang berbuat memalukan atau mencoreng nama desa kita, orang itu wajib diadili dan diarak keliling desa!" lanjutnya menatap Tiana dengan pandangan mata penuh intimidasi. Gadis itu terdiam, dia sadar bahwa dirinya tidak akan menang bila Febian berbicara dan menunjukan bukti foto kejadian malam itu. Kemudian, wanita berkuku warna merah terang itu mendorongnya. "Cepat, bawa perempuan kotor ini ke balai desa!" titah Mila. Warga desa berbondong-bondong menghampiri Tiana.

Gadis itu ketakutan, dia tidak mau dibawa ke balai desa dan diarak ke seluruh desa.

"Bisa saja kalian membawa saya, saya gak akan melawan kalian bila saya salah. Sekarang, tunjukan buktinya pada saya!" Tantang Tiana, lalu menepis tiap tangan warga yang hendak menyentuhnya.

Suara tepokan tangan terdengar dari belakang. Febian muncul dari belakang kerumunan warga yang sedang menghakimi gadis itu. "Wow ... hebat ... sangat hebat elu sekarang, Tiana." Pemuda itu berjalan mendekati Tiana berwajah tegang, jantung yang berdebar kencang. Ketakutannya akan menjadi nyata. "Gadis lugu dan terkenal polos, berubah menjadi macan betina." Febian mengangkat dagunya, gadis itu bergegas menepis tangan Febian.

Tiana menatap Febian nanar, bibirnya mengkerut, terdengar suara gigi-gigi saling bergesekan. Kemudian sengaja digigit bibir bagian bawah pelan-pelan. Menahan rasa marah, kesal, takut dan rasa lainnya yang saat ini mengaduk batinnya. Ia tau, tak akan selamat bila Febian membuka mulut tentang kejadian itu. Tak lama, jari jemarinya mengerat satu sama lain, membentuk kepalan.

"Elu mau bukti, Tiana?" tanya Febian memberi senyuman nyinyir pada gadis itu.

"Sebenarnya, elu mau apa, Febian?" kata Tiana balik bertanya.

"Gue mau, elu melayani gue tiap hari!" bisik Febian di telinga Tiana. "Dan menjadi budak gue di ranjang setiap gue inginkan!" Rasa muak mencuat ke ubun-ubun gadis itu, rasa mual mendengar ucapan Febian membuat ia hendak muntah, jijik dan memuakan.

Cuih.

Air liur Tiana membasahi wajah Febian. "B-bajingan elu, Bi!!" umpatnya menahan amarah. Suaranya sedikit bergetar, jiwa tertusuk kata-kata menghujam batinnya. Ucapan Febian membuatnya kecewa, sangat kecewa, dan itu membuatnya sangat sakit.

Dulu, ia memimpikan Febian menjadi suaminya. Begitu mengidamkan Febian yang penuh perhatian dan melindungi dirinya. Walau kadang, Tiana kecil sering melindungi Febian dari gangguan anak-anak lain yang suka merundungnya habis-habisan.

Lihat selengkapnya