Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #27

Rencana Buat Kabur.

"A-apa?" Kebingungan dalam lukisan wajah indah Tiana kian menjadi, wajah putih itu mendadak pias. Lalu, pelan-pelan berubah memutih. Pucat. "T-tunggu!" kata Tiana, diabaikan semua orang. Dirinya tetap saja diseret menuju balai desa untuk diadili atas tuduhan melakukan perbuatan kotor dan mencemarkan desa.

"I-ini gak adil!" seru gadis itu sekali lagi, ucapannya menarik perhatian warga yang memegangi tangannya.

"Gak usah membela diri lagi, Nak Tiana, semua bukti sudah jelas. Kamu akan segera diadili di balai desa!" tandas bapak-bapak berkumis tebal di samping Tiana. "Lebih baik kamu berdoa biar bapakmu belain kamu, dan mudah-mudahan bisa meringankan hukuman kamu nantinya!" lanjut Bapak itu menasehati.

Tiana terdiam, dia pun tidak bisa berbuat banyak. Semua orang mentertawakannya, mencibir dengan tatapan penuh tekanan dan intimidasi. Ketakutan mulai menyerang kembali jiwanya, berlahan-lahan merambat bersama darah yang mengalir deras keseluruh badan. Bayangan-bayangan buruk yang pernah membuat terpuruk hingga bikin dia trauma berat tiba-tiba terlintas di pelupuk mata gadis itu.

Tubuhnya mengigil, gemetaran. Keringat dingin keluar secara bersamaan dari pori-pori dahi dan leher.

"Gak ... bukan ... s-semua bukan salahku!" oceh Tiana. Kedua warga yang sedari tadi memegangi tangannya melirik, menatap jijik. Semua tidak mengira Tiana melakukan hal menjijikan yang merubah imej desa yang semula desa terbaik tanpa noda, kini harus dinodai oleh kelakuan bejar di mata orang-orang desa. "Aku gak bersalah, aku ... aku hanya korban. Ya, korban!" ocehnya lagi.

"Udahlah, gak usah sok suci lagi. Kami semua udah tau kelakuan bejatmu itu, Tiana!" pekik salah satu ibu-ibu yang tak jauh jaraknya. Geram, kesal dan muak melihat Tiana. Rasa iba yang dulu biasa mereka berikan pada Tiana, berubah menjadi rasa jijik yang memuakan bagi mereka.

Gadis itu terdiam dengan terpaksa, tidak ada yang menolong. Tak ada ayahnya di rumah tadi, dia sendirian. Bayang-bayang hukuman akan menghujam juga menyakiti dirinya. "Gimana ini? Apa aku akan dihukum mati?" pikirnya sudah ketakutan duluan. Tiana belum pernah menyaksikan hukuman untuk orang yang berbuat zinah di desanya sejak dulu. Jadi, semua tentang hukuman yang akan diterimanya dia tidak tau. Yang dipikirannya saat ini adalah membebaskan diri dari tuduhan dan membuktikan bahwa dia adalah korban, bukan pelaku.

Mata berbulu lentik itu melirik ke Febian. Sesaat mimik wajah berubah. Ada sesal di batin saat dia memberitahu dan meminta tolong pada Febian di kejadian malam itu. Tiana juga tidak menyangka, bahwa teman masa kecil sekaligus pemuda yang ia sukai akan membongkar tentang kejadian itu di depan semua orang. Sikap pemuda itu berubah semenjak kejadian malam itu, terlebih lagi saat dia hendak memperk*sanya.

"Apa jangan-jangan yang dikatakan Mike benar?" bisik batinnya, tiba-tiba saja dia teringat ucapan Mike tentang Febian sehari setelah kejadian di kampus. Tiana mulai menelaah tiap kejadian, semua memang secara kebetulan. Bahkan kejadian demi kejadian seolah sudah tersusun matang. "T-tapi ... ini gak mungkin?"

Lalu di tempat di mana Romy mencari dokter Irana.

Lihat selengkapnya