Kala menyimpan buku catatannya ke dalam tasnya, berdiri dari duduknya dan bersiap pulang.
Hari ini kelas perkuliahan hanya dua mata kuliah, karena mata kuliah ketiga diganti menjadi hari Sabtu, di hari libur.
"Kal, makan yuk." Ajak Sesil, salah satu teman kuliah Kala.
"Gak deh gue, gue mau balik." Jawab Kala sembari menuruni anak tangga.
"Ya elah, Kal, bentaran doang, apa banget sih yang dikejar." Sahut Gia.
Kala tak menjawab, hanya menaikkan kedua bahunya sembari terus menuruni anak tangga.
"Atau lo mau ngedate sama cowok ya? Siapa-siapa? Kenalin lah sama kita." Sahut Jisa, teman kuliah Kala yang lain lagi.
"Apaan sih." Jawab Kala kesal.
Ketiga teman Kala terkekeh. Kala berbelok, berbeda arah dengan teman-temanya.
"Kal, beneran gak ikut?" Tanya Jisa, Kala menggeleng.
"Kenapa sih, bentar doang, makaaan." Sahut Sesil.
"Gue mau balik, kalian aja." Jawab Kala lalu berjalan lebih cepat menuju motonya yang berada di parkiran dekat kantin.
"GAK ASIK LO AH!" Teriak Gia, Kala tak menjawab.
Kala melajukan motornya menuju rumah untuk kembali belajar.
Tapi bukan belajar untuk perkuliahannya, tapi Kala belajar untuk persiapan ia tes bekerja.
Diam-diam Kala melamar pada sebuah lowongan pekerjaan yang kebetulan menerima tamatan Sekolah Menengah Atas dan atau yang sedang berkuliah.
Pikir Kala, ini kesempatan yang bagus, hal yang selama ini Kala inginkan.
Selama ini, Kala hanya bisa diam ketika orang tuanya bercerita mengenai keuangan keluarga yang terus-terusan tidak jelas.
Uang kuliahnya yang terbilang murah itu saja selalu terkendala setiap semesternya untuk dibayarkan.
Entah kurang seratus-duaratus ribu, atau bahkan parahanya masih bingung dari mana uang untuk membayarnya.
Kemarin, saat di Tes Bagian Pertama, Kala lulus dengan penilaian yang memuaskan, dengan mengalahkan banyak pesaingnya, dan besok lusa adalah Tes Bagian Kedua yang menjadi Tes Akhir, apakah Kala bisa lulus untuk bekerja atau tidak.
"Udah kuliahnya? Katanya sampe sore?" Tanya Mamim saat Kala baru saja sampai di rumah.
"Matkul ketiga diganti besok sabtu, dosennya ada kegiatan dadakan." Jawab Kala sembari berjalan menuju kamarnya.
"Kalo gitu, temenin Mamim yuk, jenguk anaknya Om Habil." Ucap Mamim, Kala berpikir sebentar.
"Gak sama Eyang Eni? Biasanya pergi ramean, sama Bibi juga." Tanya Kala, Mamim menggeleng.
"Mereka pulang kantor langsung ke sana, jadi ketemuan di sana aja." Jawab Mamim, Kala berdecak dalam hatinya.
Di sisi lain, Kala ingin belajar untuk lusa, namun Mamim meminta untuk ditemani.
"Kayaknya, nurut sama Mamim aja dulu, kan, ya, Tuhan? Takut durhaka" Benak Kala sedikit bercanda.
Kala meletakkan tas kuliahnya, lalu mengangguk.
"Oke deh kalo gituu, Mamim ganti baju dulu ya." Jawab Mamim lalu beranjak dari duduknya.
Kala menghela nafasnya, berharap waktu belajarnya yang sangat singkat ini bisa membantunya besok lusa.
----
Kala duduk di sofa di ruang tamu rumah Om Habil, sedari tadi sejak mereka sampai.
Ponselnya tidak lepas dari tangannya dari tadi, fokus membaca ulang materi yang sekiranya masuk ke dalam tes besok lusa.
Jujur saja, di masa tes kedua ini, Kala sedikit sekali memiliki waktu belajar, karena kuliah yang sedang sibuk-sibuknya dengan tugas dan ujian akhir semester.