Kala menyenderkan badannya pada kursi kerjanya. Pekerjaannya selesai untuk hari ini.
Sudah dua tahun lebih Kala sudah bekerja di kantornya ini, kantor yang punya usaha paling besar untuk Kala dapatkan.
"Gila pegelnya." Ucap Kala pelan sembari memijat sendiri bahu kanannya.
"Kal, makan yuk." Ajak Kak Pina, salah satu teman kantor Kala yang berada bersebrangan dengan mejanya.
"Kala entar aja deh Kak, masih pengen istirahat dulu, pegel banget." Jawab Kala, Pina mengangguk.
"Beneran?" Tanya Pina, Kala mengangguk.
"Berani di ruangan sendiri? Yang lain pada mau turun makan lhoo." Jawab Pina, Kala mengangguk lagi.
"Berani kok, Kak, paling ntar kalo emang digangguin, Kala teriak panggil Kak Pina aja." Jawab Kala bercanda.
"Ah males, biarin aja kalo digangguin." Jawab Pina juga bercanda.
Kala terkekeh ringan.
"Ya udah, kita turun makan dulu ya, kabarin aja kalo mau nitip." Ucap Pina, Kala mengangguk.
"Iyaa Kak, aman." Jawab Kala.
Kala bersender lagi pada meja kerjanya, kepalanya masih sakit, sedari ia bangun tadi pagi.
"Gara-gara semalem nih pasti." Gumam Kala kesal.
Semalam, Kala menangis sampai-sampai kepalanya sakit bukan main. Bukan karena dimarahi Mamim, atau bahkan orang kantor, melainkan Kala marah dan memarahi dirinya sendiri.
Entahlah kenapa, sampai sekarang Kala masih terus teringat akan semua luka di masa lalu yang masih terus melekat dengan dirinya.
Luka trauma yang tidak pernah sembuh dan justru terus terluka.
"Sampai kapan, Tuhan." Gumam Kala pelan.
Kala punya trauma tentang keluarganya. Mulai dari masalah keuangan keluarga yang sempat jatuh-sejatuhnya hingga berakibat pada hubungan orangtuanya.
Hubungan Papip dan Mamim yang dulunya hangat, perlahan berubah dingin semenjak keluarga mereka pelan-pelan tidak karuan.
Papip berhenti secara tiba-tiba dari pekerjaannya, tanpa mendiskusikan pada Mamim. Berhenti tiba-tiba tanpa ada tabungan dan persiapan untuk melanjutkan hidup tanpa pekerjaan dan tentu tanpa uang.
Papip perlahan lepas dari tanggung jawabnya, melepaskan semuanya pada Mamim yang akhirnya harus menjadi Kepala Keluarga dadakan karena Papip yang tiba-tiba berubah.
Semuanya Papip lakukan, namun mengorbankan Mamim.
Berhutang atas nama Mamim, yang bukan cuma satu, namun dua sampai tiga tempat untuk berhutang yang Papip gunakan semua atas nama Mamim.
Bukan, bukan Mamim yang bodoh, namun Papip yang licik.
Papip yang tidak pernah bisa mengerti Mamim dan kedua anaknya, yang justru malah memuaskan kehendaknya sendiri.
Bertindak semaunya, tanpa pernah bisa berbuat apapun. Bahkan, Papip yang dulunya mencintai Mamim dengan penuh hangat dan kasih justru berubah kasar.
Sampai hati Papip menyakiti Mamim, bukan hanya dari verbal namun juga dengan fisik.
Kala tinggal diam? Tentu tidak.
Beberapa kali Kala menentang Papip bahkan di salah satu waktu, saat Papip mengamuk tidak jelas, dan ingin kembali menyakiti Mamim, Kala keluar dari kamarnya dan mendorong Papip keras.
Entah kekuatan dari mana untuk Kala mendorong badan Papip yang lebih tinggi dan besar dari Kala itu.
Dari hal itu, Kala melihat dunia tidak lagi terang, justru berubah menjadi dunia yang punya banyak sisi kelam dan buruk rupanya.
Pun melihat cinta, Kala tidak lagi percaya cinta itu sepenuhnya indah, tidak lagi sepenuhnya percaya bahwa di dunia ini ada cinta yang tulus.
Kala mengusap-usap dadanya, menghembuskan nafas beratnya, mencoba meredakan perasaannya yang masih terasa berat itu.
"Ini tuh, udah hampir sepuluh tahun, Tuhan, kenapa luka trauma di Kala gak sembuh-sembuh?" Tanya Kala setengah menyerah.
Kala memang terlihat biasa saja, seperti tidak menyimpan luka trauma yang besar. Setiap pagi bangun, berangkat kerja, tersenyum bahkan tertawa, ya seperti manusia biasanya.
Ketika sampai di kantor Kala juga akan berbaur seperti biasa, bercanda dengan rekan kerja, melanjutkan semua pekerjaan dengan tuntas dan tepat sesuai arahan.
Namun, kamar Kala menjadi saksi bahwa Kala yang paling lemah ada di sana, di setiap malam dengan rintihan yang paling lirih.
Menjadi saksi betapa banyaknya doa kepada Tuhan yang Kala ulang terus-menerus di setiap harinya.
Bukan lagi untuk disembuhkan luka traumanya melainkan lebih dari pada itu.
Tenang, Kala inginkan tenang.
"Kala gak mau lama-lama disini, Tuhan. Kala gak kuat."
----
Kala sudah sampai di rumah, ia meletakkan tas kerjanya, dan bersiap mandi dan berganti baju.
"Makan dulu ya, Mbak Kala, Mamim buatin mie goreng tumis nih, enak banget." Ucap Mamim sedikit berteriak dari meja makan.
"Iya Mim, sebentaar." Jawab Kala dari dalam kamarnya yang sedang bersiap mandi dan berganti baju.
Seperti sudah diketahui, Kala hanya berdua dengan Mamim di rumah.
Papip bekerja di luar kota, yang akhirnya kembali mendapatkan pekerjaan untuk mulai menata kembali keluarga yang hampir hancur.
Sementara Aidan, adik Kala, ia berkuliah di luar kota, setelah mendapatkan beasiswa yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi Aidan untuk berkuliah di kampus impiannya itu.
Karena, saat keuangan keluarga tidak baik dan bahkan begitu susah, harapan kuliah sama sekali tidak ada lagi di kepala Kala, semuanya terasa seperti mitos belaka.
Untuk makan hari ini dan bisa bertahan untuk sehari saja sudah cukup sekali pikir Kala.
Jadi sekedar untuk berandai-andai saja, Kala tidak pantas.
Singkat cerita, atas bantuan tangan Tuhan, kuliah yang menjadi hal tabu bagi Kala, justru Kala dapatkan.
Walaupun harus bekuliah di tempat yang jauh dari harapan Kala sejak masih duduk di Sekolah Menengah Atas bahkan di sekolah menengah pertama.