Detak Detik Nadi.

alkaladia.
Chapter #3

Jenguk Magin

Kala sudah sampai di rumah Dechi, sesampainya disana, Dechi yang melihat Kala setengah kuyup itu, memberikan Kala handuk yang baru semalam ia beli. 

"Handuk baru ya itu, semalem baru beli gue." Ucap Dechi, Kala mengangguk.

"Iyaaa." Jawab Kala sembari mengeringkan dirinya dengan handuk

"Lo kan bisa bilang, ntar gue jemput aja di kantor atau di rumah lo." Ucap Dechi, Kala masih mengeringkan air hujan di wajah dan badannya.

"Udahlah gak apa-apa, ngerepotin banget." Jawab Kala, Dechi berdecak.

"Ngerepotin apaan sih, temenan udah lama juga lo, kayak baru kenalan tadi." Jawab Dechi, Kala terkekeh ringan.

"Iya maafin yaa, maaf banget nih sister." Jawab Kala lalu berdiri dari duduknya.

"Ganti baju gih sana, ada baju lo masih di gue." Ucap Dechi, Kala tampak berpikir.

"Baju apaan? Yang mana?" Tanya Kala bingung.

"Ada pokoknya, sana gih ganti, udah gue siapin di kamar." Jawab Dechi, Kala mengangguk, segera mematuhi ucapan Dechi.

"Siap, Bu Dechi!" Jawab Kala lalu bergegas menuju kamar Dechi.

"Tengil banget bocah." Gemas Dechi, ia lalu membuatkan Kala segelas teh hangat dan coklat hangat untuk Sania nanti.

Dechi selalu punya persediaan teh dan bubuk coklat untuk Kala dan Sania, karena kedua temannya ini masing-masing suka dengan kedua minuman itu.

"Eh iya, Kala katanya ngurangin gula lagi ya? Dari setengah sendok teh gini, jadi berapa lagi takaran gula dia, ya?" Tanya Dechi sendiri.

"KALAAA, DECHII, I'M HEREEE." Teriak Sania dari ruang tamu rumah Dechi.

"Gila lo, kaget gue!" Jawab Dechi kesal, Sani terkekeh.

"Wuih, enak tuh minuman." Ucap Sania, yang malah beralih fokus pada minuman buatan Dechi.

"Iyalah, buatan gue nih." Jawab Dechi.

Sania mengambil alih gelas berisi coklat hangat itu, coklat hangat dengan takaran setengah gelas susu cair.

Tak lama, Kala keluar dengan setelan bajunya, terlihat lebih rapi dan segar.

"Wuih, cakep amat, abis darimana, sis?" Tanya Sania lalu kembali meminum coklatnya.

"Eh, Kal, ini gulanya mau dikasihin berapa sendok? Lo soalnya lagi ngurangin gula lagi kan?" Tanya Dechi, Kala mengangguk.

"Gak usah pake gula boleh juga, De, gue lagi suka pusing kalo makan yang manis." Jawab Kala, Dechi mengangguk paham.

"Ya udah, nih buat lo, kalian disini dulu aja, gue siap-siap sebentar, baru kita ke Magin ya." Ucap Dechi, Kala dan Sania mengangguk.

Kala menyisip sedikit teh hangatnya, Sania pun juga dengan coklat hangatnya.

Kala menyenderkan badan juga kepalanya, mencoba meredakan rasa sakit di kepalanya yang selama dua minggu ini tidak pernah absen di kepalanya.

Beberapa kali pun Kala tiba-tiba merasa lemas dan lelah berlebihan padahal Kala tidak terlalu banyak melakukan aktivitas fisik.

Hanya bekerja di kantor, dari pagi sampai sore dan dilanjutkan lembur di rumah. Sampai-sampai, dalam dua minggu ini, Kala sudah dua sampai tiga kali demam.

Nafsu makan Kala juga hilang, mungkin sehari Kala hanya makan sekali, dan itu pun hanya tiga sampai empat suap.

Kala sudah berniat memeriksakan kesehatannya, namun kebutuhan rumah yang selalu pas-pasan, jadi pikir Kala kebutuhan rumah, Mamim, dan Aidan adalah prioritasnya.

Untuk diri Kala sendiri? Itu nomor sekian.

"Eh Kal." Ucap Sania setelah meneguk coklat hangatnya.

"Hm?" Tanya Kala yang masih meminum tehnya.

"Lo kok kurusan semenjak kerja? Gak bahagia lo ya?" Ucap Sania asal, Kala hampir tersedak.

"Mulut lo dipakein rem deh lain kali." Jawab Kala, Sania terkekeh.

"Ya lagian, lo kayak gak bahagia dah semenjak kerja, stress lo ya?" Ucap Sania sembari duduk di samping Kala.

"Kayaknya." Jawab Kala singkat, ia lalu mengambil dan memainkan ponselnya.

"Ih, jangan stres-stres lo, ntar sakit tau." Ucap Sania lagi, Kala berdehm.

"Beneran ini gue bilang." Ucap Sania lagi.

"Iya Saniaaa." Jawab Kala lalu merebahkan badannya dengan paha Sania menjadi bantal.

Kala lanjut memainkan ponselnya, dan mendapati sebuah unggahan di media sosialnya.

Kompetisi Menulis!

Segera daftarkan dirimu!

Kala berpikir lagi, apakah ia benar-benar harus ikut kompetisi menulis ini? Tapi kesibukan kantor bagaimana? Kala bahkan belum sepenuhnya bisa beradaptasi dengan pekerjaan kantor.

"Tapi hadiahnya lumayan sih, buat bayarin hutang Papip Mamim." Ucap Kala dalam hati.

"Kal." Panggil Sania, memecahkan pikiran Kala.

"Apa?" Jawab Kala.

"Menurut lo, gue bisa gak ya dapetin beasiswa S2 yang kemaren gue bilang?" Tanya Sania, Kala mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

"Ya bisa lah, kenapa gak bisa?" Jawab Kala meyakinkan, Sania menghela nafasnya.

"Gak yakin gue, mana nyokap bokap gue gak ngasih izin, jadi kayak kalo gue lanjutin, kayak cuma-cuma, didukung aja gak gue." Ucap Sania yang terdengar putus asa itu, Kala bangun dari posisinya.

"Kan lo udah lulus tahapan pertama kan?" Tanya Kala, Sania mengangguk.

"Tapi ya gitu, nyokap bokap gue gak kasih izin, susah banget, tapi adek gue diizinin, padahal bukan beasiswa." Jawab Sania, Kala diam mendengarkan.

"Gue tuh ya, Kal, kadang kayak bingung gitu lho, kenapa nyokap bokap gue gitu banget ke gue? Berasa banget pilih kasihnya." Tambah Sania sedih.

"Emang anak pertama tuh mesti gimana sih, Kal? Ngalah terus sama adeknya? Gak boleh bahagia, gitu?" Tanya Sania yang matanya mulai berkaca-kaca.

Kala menarik Sania dalam pelukannya, dengan Sani yang menangis juga. 

Dechi keluar dari kamarnya, dan mendapati Sania yang sudah menangis, namun Kala memberikan kode mata yang sudah keduanya saling mengerti.

"Sedih banget, Kal, gue gak tau kenapa sakit banget rasanya, gue gak benci adek gue, tapi justru gue benci sama diri gue sendiri." Ucap Sania, Kala dan Dechi yang mendengar itu tidak tega.

Dechi lalu duduk di samping Sania, dan mengelus-elus bahunya pelan.

"Gue gak ngerti, gue bener-bener gak ngerti, gue salah apa sih?" Keluh Sania dalam tangisnya.

Sania memiliki issue terhadap kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya yang selalu bersikap tidak adil padanya.

Yang selalu menomor satukan adiknya, bagaimana pun kondisinya, adiknya lah yang akan diutamakan.

Padahal Sania juga punya mimpi, juga punya keinginan, namun selalu pupus karena orangtuanya.

Lihat selengkapnya