31 Mei 2025 08:00
“Hah... kepasang juga ini jam.” Seorang lelaki paruh baya berbadan gempal dengan kumis cukup tebal berbicara sembari berkacak pinggang. Kepalanya memutar melihat seorang pria muda kurus berjalan di belakangnya. “Kak! Kakak! Mau ke mana?”
“Mau ke warung, beli roti sama kopi.”
“Sisa duit beli baterai tadi berapa?”
“Enam ribu,” ucap pria itu sembari menarik kencang napas dari hidungnya dan sedikit menguceknya.
“Beliin kopi satu, sisanya pakai uang kamu sendiri.”
“Ah, elah! Sudah pas ini,” gerutu pria kurus itu.
“Sudah, Kak, beli saja yang Bapak minta,” ucap Bapak dengan lembut.
“Yaudah iya!” jawab Kakak seraya berjalan keluar rumah.
Ini adalah adegan kedua yang aku saksikan. Oh iya, aku baru saja tersadar beberapa menit yang lalu. Sebelumnya, aku sempat berada di sebuah ruangan, dan aku melihat wajah si Bapak tersenyum. Di sana, sekilas aku melihat banyak jam yang tergantung dalam kesadaranku yang tidak sampai satu menit itu.
“Iya, Pak, nyala. Saya mau itu saja.”
Itu adalah kata-kata pertama yang kudengar dalam hidupku, dan itu adalah suara Bapak. Setelah itu, bateraiku dicabut dan aku pun tidak mengingat apa pun lagi.
Aku kembali tersadar ketika sudah berada di ruangan ini. Sebelum menggantungku dan menempel di dinding, Bapak tadi mengaturku dengan memutar kenop di belakang punggungku.
Aku tidak memiliki otak, namun samar-samar aku mengetahui semua hal. Aku juga tidak mempunyai hati, tapi sepertinya mengetahui sedikit emosi, seperti: rasa senang Bapak yang tersenyum padaku, atau rasa kesal Kakak tadi.
Aku memiliki mesin yang merangkap sebagai hati dan otak, bahkan seluruh organ tubuhku. Jadi, anggap saja ini adalah suara hati yang diucapkan oleh mesinku.
Saat ini aku terpasang di sebuah ruang keluarga tepat di atas sebuah TV. Di depanku ada sebuah karpet hijau polos terbentang, dan ada tiga buah pintu cokelat.
Di sisi kanan terdapat sebuah pintu dan jendela lebar dengan terali, tidak terlalu jelas terlihat bagian luarnya. Lalu ada sebuah meja dengan susunan sofa. Sementara sisi kiri, terdapat kursi dan sebuah meja yang lengkap dengan sebuah tudung saji di atasnya.
Kalau aku sedikit melirik lebih jauh lagi pada bagian serong kiri terdapat kongliong, dari celahnya terlihat sebuah kompor di atas meja dari beton.
Aku tidak tahu bagaimana aku mempunyai pengetahuan dan tahu nama benda yang aku lihat, padahal aku baru saja hidup. Aku tahu jika sebuah jendela di luarnya pasti ada matahari, meski pandanganku terbatas, hanya selangkah dari teras rumah. Aku juga bisa pastikan jika di bagian kiriku adalah ruangan belakang yang terdapat kamar mandi. Hah... aku menggerutu dengan bahasa mesin.
Sekarang Bapak duduk bersila di muka TV, tangannya sibuk menekan remot dan mencari program siaran yang menarik untuknya. Berkali-kali ia mengganti saluran, hingga ia tetapkan untuk menonton sebuah siaran berita.
Bahkan aku bisa tahu benda yang ada di bawahku bernama TV, yang berfungsi sebagai pengantar informasi berbentuk visual dan suara. Aku menyebutnya dengan “kotak hiburan”—ya meskipun tidak selalu menghibur.
“Krisis ekonomi global mengancam negeri. Tahun ini, presiden telah menyiapkan beberapa agenda untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi. Rencananya, presiden akan melakukan kunjungan ke beberapa negara pemimpin ekonomi dunia, bersama beberapa jajaran menteri dan staf khusus presiden. Mereka akan membahas langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan, serta menjalin kerja sama untuk saling bersinergi agar dapat keluar dari kondisi yang mencekam ini.
“Permasalahan ini juga turut dikaji oleh para anggota parlemen yang akan melakukan kunjungan ke beberapa negara lain. Mereka akan meninjau kebijakan yang telah berjalan di negara-negara tersebut, agar menjadi pertimbangan terkait kebijakan yang akan diterapkan nantinya.
“Menurut Adinata, juru bicara presiden, hal ini wajib dilakukan. Dia juga menambahkan, bahwa semua yang dilakukan ini adalah untuk kepentingan rakyat. Tentunya ini akan menjadi pembelajaran penting, tentang bagaimana negara maju bisa bertahan dari krisis global yang terjadi akibat dari ketegangan geopolitik dan memanasnya hubungan antara negara adikuasa.”
Bapak menggaruk kepala dengan matanya yang masih terpaku pada layar kaca. “Kok enak sekali ya jadi mereka? Rakyat cari duit berkeringat sampai celana dalam bisa diperas, sedangkan mereka jalan-jalan terus dengan alasan ‘kerja’. Selama ini ke luar negeri tapi hasilnya tak ada yang bisa dirasakan rakyat, tapi bilangnya ‘untuk kepentingan rakyat’. Apa mereka enggak tahu efek krisis global yang dulu saja masih terasa, bahkan setelah bertahun-tahun, trauma itu masih ada sampai sekarang? Tapi kayaknya pemerintah enggak pernah belajar, malah semakin bobrok.” Bapak menggerutu dan duduk di ruang tamu.
Kakak masuk dengan plastik yang menggelayut di tangannya. Wajahnya sedikit lesu dengan tangannya terjulur menyodorkan sebungkus kopi ke arah Bapak.
Bapak menatap Kakak dengan dahinya yang berkerut. “Seduhkan sekalian, Kak, masa mentah begini dikasih ke Bapak.”
“Ya sudah, iya!” Kakak melenggang masuk menuju ruang belakang.
“Kak, rotinya mana?”