1 Juni 2025 07:30
Pagi ini, Kakak duduk diam di ruang tamu dengan segelas kopi di hadapannya. Adik baru saja lewat di hadapannya dan pergi dari rumah. Mereka hanya terdiam tanpa saling pandang. Kakak memegang pelipisnya yang terbalut sehelai plester.
Bapak sudah pergi sejak pukul 6 pagi dengan membawa banyak botol minuman. Ia sangat sibuk sore kemarin ketika Kakak sedang beristirahat.
Bapak membuat beberapa jenis minuman yang ia persiapkan sembari menonton TV. Ia membersihkan dan memotong-motong beberapa bahan yang terlihat seperti kunyit, kencur, jahe, temulawak, asam jawa, gula merah, dan lain-lain. Namun, satu barang yang terlihat janggal ada di sana: bata merah.
Bata merah itu Bapak rebus dan menyaringnya, lalu ia campurkan dengan beberapa bahan lain.
Saat ini, sudah hampir sejam Kakak tidak mengubah posisinya, dan hanya bergerak sesekali ketika menyeruput kopinya. Tidak ada desahan setelahnya, seperti kemarin.
Terdengar pagar rumah terbuka lalu suara motor mendekat. Tak lama, suara kaki mendekat ke arah pintu utama. Namun, Kakak tetap bergeming tanpa rasa penasaran. Hingga terlihatlah seorang wanita memasuki rumah, ia menepuk pelan pundak Kakak.
“Kok enggak dibalas chat-ku, Yang?” ucap wanita itu pelan.
Kakak menoleh perlahan. “Iya, HP-nya dicas, maaf ya.”
Wanita itu menanyakan kabar Kakak dengan suara yang sedikit bergetar. Ia pegang lembut plester yang tertempel di wajah pria itu dan duduk di sampingnya.
Kakak tersenyum dan memegang tangan yang ada di pelipisnya. “Aku baik-baik saja.”
“Sudah, jangan berantem lagi sama Adik.”
“Aku kesal, Yang. Mau sampai kapan dia begitu?” Kakak menurunkan tangan wanita itu dengan tergesa dan suaranya sedikit meninggi.
“Sabar, jangan marahnya sama aku.”
“Siapa yang marah? Yang, ayo, mumpung rumah kosong, biar aku segar lagi nih.”
“Ih... apaan?” tanya wanita itu dengan nada manja.
Tanpa permisi, Kakak menciumi wajah wanita itu dengan lembut. Ia seperti lupa rasa sakit yang ada di pelipisnya. Kakak mendorong wanita itu ke sandaran sofa, sementara wanita itu kini hanya pasrah menerima apa yang dilakukan padanya.
Suara pagar terbuka, wanita itu tersentak melihatnya dan coba menghentikan Kakak dengan mendorongnya pelan. Namun, Kakak tidak berhenti, ia terus saja berkegiatan pada tubuh wanita itu, malah ia semakin brutal yang menyebabkan kepala wanita itu semakin terdongak menghadap langit-langit rumah.
Adik masuk ke dalam rumah dengan kotak hitam di tangannya, lewat begitu saja tanpa terganggu dengan aktivitas yang ada.
Wanita itu sejenak melihat Adik yang terus berjalan tanpa sedikit pun terusik, saat Adik masuk ke dalam kamarnya baru wanita itu kembali fokus pada Kakak.
Setelah beberapa saat, mereka terkulai, sesekali tertawa sembari tersengal. Cukup lama mereka tanpa busana di ruang tamu setelah berkeringat bersama, mereka beranjak menuju ruang belakang.
Terdengar suara air yang mengalir deras dari keran. Suara air itu beriringan lagi dengan suara yang sama seperti sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, mereka kembali menuju sofa dengan pakaian yang sama seperti mereka kenakan tadi, tapi terlihat sedikit kusut. Si wanita membalut handuk di kepalanya dan melingkar layaknya turban.
Lima belas menit berlalu tanpa suara, masing-masing sibuk dengan ponsel yang mengambil fokus mereka. Wajah mereka terlihat tersenyum menatap layar ponsel itu dengan jari yang sibuk bergerak naik dan turun.
“Kamu kerja jam berapa?”
“Jam sepuluh. Makan dulu yuk! Masih sempat,” ucap wanita bergegas.
Setelah berdiskusi mengenai tempat sarapan, mereka keluar rumah dengan rambut wanita itu yang masih terlihat lembap. Pintu dikunci dari luar dan meninggalkanku dalam keheningan.
Pintu kamar terbuka, Adik menuju jendela dan memandangi area luar, dan meninggalkan rumah membawa kotak hitamnya.
Aku merasa terganggu dengan apa yang Kakak dan wanitanya lakukan. Tapi mengapa Adik biasa saja?
1 Juni 2025 11:30
Matahari tengah berjuang menuju puncaknya ketika Adik kembali dengan terus membawa kotak hitam. Ia duduk di ruang tamu dan memandangi barang yang ia pegang, bibirnya ia rapatkan sembari memutar benda tersebut.
Suara pagar terdengar. Adik mengintip dari jendela dan dengan langkah terburu menuju kamarnya.
Kakak masuk dan berjalan cepat menuju ruang belakang dengan sebuah plastik hitam besar, lalu ia duduk di ruang tamu dan mengeluarkan plastik bening kecil dari kantong celana. Ia mengangkat dan menerawang bungkusan itu, terlihat itu berisi seperti bubuk putih.
Gagang pintu kamar Adik berbunyi, sigap Kakak menyembunyikan plastik bening kecil itu. Mereka tidak saling pandang saat Adik berjalan keluar dengan kotaknya.
Kakak mengintip dari jendela dan segera mengeluarkan plastik kecil yang ia sembunyikan. Ia mengibasnya sembari bersenandung dan berjalan menuju kamarnya. Tidak terdengar jelas lantunannya, karena begitu pelan dan terselip tawa.
Setengah jam berlalu, Kakak keluar dari kamarnya sambil bersikap khasnya yaitu mengucek hidung dan bernapas keras.
“Hua... segar sekali, huh, huh, huh,” ucap Kakak sambil melompat beberapa kali. Garis matanya terlihat menurun, tapi bola matanya terlihat menyala. Ekspresi wajahnya terlihat tegang dengan giginya yang terlihat rapat.
“Jualan sampai subuh juga kuat kalau kondisinya begini.” Kakak berjalan dengan gegap gempita menuju ruang belakang, senyuman lebar terpaksa terpatri di wajahnya.
Dari posisiku tidak begitu terlihat jelas apa yang ia kerjakan, ia berdiri di dekat kompor dengan punggungnya yang menghadapku. Cukup lama aku memperhatikannya, terdengar suara seperti memotong, pisau yang beradu dengan alas kayu—suaranya cukup cepat.
Tengkuk Kakak mulai terlapisi keringat tipis, yang membuatnya mengkilap seperti pualam cokelat yang memantulkan cahaya. Bajunya mulai bermotif akibat basah saat ia berhadapan dengan dua tungku kompor yang menyala. Kedua tangannya terus mengaduk tanpa henti pada dua dandang yang mengepul. Setelah itu, ia pindahkan dandang itu lalu menggantinya dengan yang baru. Terus begitu hingga beberapa kali hingga ia memindahkan isinya ke dalam botol-botol. Warna-warni cairan dalam botol yang hampir terlihat senada.
“Pas jam tiga, semua selesai,” ucap Kakak sambil menatapku dengan senyuman yang tidak berkurang sejak tadi, dan ia kembali menuju ruang belakang.