Detik Ruang Keluarga

Pipo Vernandes
Chapter #4

A

Leman tengah berada di kota lama. Ia menghentikan motornya di bawah jalan layang tol dan memandangi sebuah bangunan ruko tua yang tidak lagi dihuni. Tangannya bergetar menggenggam kuat handgrip motor bebeknya, dan menatap ruas jalan yang ada di atasnya. “Jalanan sialan!” 

Leman melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan panjang yang menggenang dan sepi. Puluhan umpatan ia keluarkan sembari melihat sisi-sisi jalan dengan bangunan tua yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Kehidupan sudah tidak terlihat lagi di sini, dan hanya menampilkan sisa-sisa kejayaan masa lalu. 

Dahulu, jalanan ini begitu ramai dilalui warga, dan menjadi akses satu-satunya untuk menuju kota tetangga—bising mesin kendaraan adalah tanda kebahagiaan para pemilik ruko di sini. Namun ketika jalan tol itu memecah arus warga, mereka memilih jalan melayang itu sebagai sarana mempersingkat waktu tempuh. Selain itu, dampak yang dihasilkan juga cukup meresahkan warga, yaitu banjir mulai timbul akibat pembangunan yang serampangan dan menggusur kehidupan secara perlahan.  

Jam enam pagi, Leman mengendarai sepeda motor yang penuh dengan barang bawaan pada kedua sisinya. Kekesalannya sudah tidak tampak setelah melewati jalan bebas hambatan itu. Pelan ia berjalan di ruas kiri dan sebisa mungkin ia tidak menyalip. 

Di sebuah kios yang berada di tengah pasar tradisional, Leman merapikan barang bawaannya pada sebuah etalase. Lalu lalang manusia menjadi napas tempat ini, selain dengan berisiknya mulut-mulut para penjual yang memanggil rezeki. 

“Pak, jamu staminanya satu!” ucap seorang pembeli. 

Leman tersenyum mengangguk, ia melanjutkan kegiatannya. Setelah itu, terhidang segelas minuman berwarna terakota yang segera diminum habis. 

Lihat selengkapnya