3 Juni 2025 06:00
Pagi ini terasa agak lain, setelah semalam aku hanya menatap gelap dan sunyi—tidak ada Bapak yang menonton TV sampai dini hari. Cahaya hanya berasal dari luar, itu pun terpendar oleh gorden semi-transparan yang menghalangi kaca jendela. Hening sekali, hanya suara mesinku yang mengisi ruangan ini. Beberapa kali memang ada seekor cecak bersahutan denganku, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.
Setelah beberapa jam menunggu kehidupan di rumah ini, akhirnya pintu rumah terbuka dengan Kakak yang membawa botol-botol kosong sisanya berjualan. Seperti tidak mengenal lelah, Kakak langsung menuju dapur dan mempersiapkan lagi amunisi perangnya. Lalu mengurung diri selama beberapa menit, dan kehidupan di hari baru, ia mulai kembali.
“Dosis naik, harus cari duit buat HP yang lagi sekolah, terus beli barang lagi,” ucap Kakak yang berhenti dari lompatannya dan mengusap rambutnya. “Stok dagangan aman buat hari ini, badan juga sudah segar lagi, bisa dihajar sampai besok pagi. Semangat ayo semangat.” Kakak bertepuk tangan.
Kakak menuju ke belakang dan suara air yang terdengar beberapa kali menghunjam ubin. Sedikit terburu-buru dari biasanya, ia segera pergi dan meninggalkan kekosongan lagi di rumah ini.
Bias mentari mulai mengurung rumah, ruangan ini terlihat menjadi menguning dan menghangat. Detikku terus berdetak dan mengukuhkanku sebagai penghuni yang satu-satunya bersuara di rumah ini. Suara cecak pagi ini sudah tidak terdengar, sepertinya ia juga sudah mulai mencari rezeki yang terhampar di dunia.
Satu jam berlalu, Adik pulang masih dengan sebuah kotak hitam di tangannya. Ia menuju kamarnya tanpa memandang ke sekitar, seolah tujuannya sudah terkunci pada kamarnya.
Suara pagar terdengar, samar terlihat wanita Kakak berjalan menuju pintu dan langsung masuk seperti rumahnya sendiri.
“Sayang...” panggil wanita itu sembari duduk di sofa ruang tamu dan meletakkan tasnya.
Tidak mendapatkan jawaban, wanita itu bersuara lagi dengan kata yang sama. Namun, hasilnya tetap sama. Ia berdiri dari sofa dan membuka pintu kamar Kakak. Sejenak ia diam dan menuju ruang belakang lalu kembali lagi.
“Enggak ada juga,” ia berkata sambil menarik kursi di ruang makan dan memandang sekitar. “Ke mana itu orang? Tumben banget HP mati, enggak ada kabar.”
Wanita itu kembali berdiri dan melangkah menuju ke pintu utama. Namun, kakinya terhenti saat melewati pintu kamar Adik. Dahinya mengernyit, ia tempelkan telinganya tepat di daun pintu, sedangkan fokus matanya entah mengarah ke mana. Ia diam sejenak, menarik gagang pintu perlahan dan mendorongnya.
“Aaaaaa...” Wanita itu mundur selangkah.
Teriakan wanita itu membuatku yang fokus menatapnya menjadi terkesiap. Aku tidak tahu apa yang ia lihat, tapi itu memancing rasa penasaranku.
“Eh... eh... tutup pintunya, tutup... bukannya ketok dulu, main buka-buka saja!” ucap Adik dengan lantang dari dalam kamar.
“Ngapain sih begitu pagi-pagi, Dik?”
“Tutup pintunya!”
“Aku mau tanya, Kakak ke mana?”
“Enggak tahu... tutup pintunya!”
“Enggak usah, aku mau lihat kamu ngapain.”
Adik berjalan menuju pintu dengan tubuh yang tidak tertutup apa pun. “Ganggu aja!” Adik membanting pintu.
“Ye... orang mau nanya doang. Ya sudah, lanjutin aja, aku tunggu di sofa.” Wanita itu berjalan menuju sofa dan menempelkan perlahan pantatnya sembari memainkan ponselnya.
Tidak berapa lama Adik melenguh panjang dari dalam kamar. Suara itu memancingku dan wanita itu untuk melihat ke arah pintu.
“Jangan buang-buang terus, Dik, siapa tahu itu nanti jadi pejabat loh,” ledek wanita itu sembari cekikikan.
Beberapa menit berlalu, Adik keluar dan menuju pintu utama dengan kotak yang masih sama di tangannya.
“Kamu ganggu saja!” bentak Adik.
“Iya, iya, maaf. Tapi Dik, Kakak mana sih?”
Langkah kaki Adik terhenti lalu memandang lawan bicaranya. “Sudah dibilang enggak tahu! Kenapa enggak tanya langsung sama orangnya?”
“Kalau chatnya dijawab juga aku enggak bakal tanya kamu. Ini HP-nya enggak aktif dari semalam.”
“Ya mana aku tahu, memangnya aku peduli?”
“Jangan pergi dulu, masak sendirian aku di rumah.”
“Maunya apa?”
“Temani aku sampai Kakak pulang.”
Adik tidak menjawab, ia duduk di sofa dan terdiam. Beberapa menit hening tercipta, wanita itu terus mencoba menghubungi Kakak melalui ponselnya. Sedangkan Adik hanya memutar-mutar kotak yang ada di tangannya, sama sekali ia tidak memandang wanita Kakak.
Menit demi menit berlalu dengan hening yang menyandera. Wanita itu mulai meletakkan ponselnya, punggungnya tertempel setia pada sandaran sofa. Tatapannya kosong dan dahinya berlipat.
“Kamu enggak mau ambilin minum, Dik?” ucap wanita itu menatap Adik.
“Iya, sebentar.” Adik berdiri menuju ruang belakang.
“Terima kasih,” jawabnya lembut.
Adik hanya menjawab dengan, “Hm...” Tidak lama, ia menuju sofa dengan segelas air di tangannya sembari menatapku, lalu meletakkannya di meja.
Wanita itu meminum air dengan cepat. “Maaf ya, haus banget ini.” Ia sejenak diam dan memandang Adik. “Itu kotak apa yang kamu pegang?”
“Kerjaanku?”
“Kerja? Kamu kerja apa, Dik?”
Adik menggeleng.
“Enggak boleh tahu ya?”
Adik mengangguk.
“Oke... Tapi aku penasaran deh, kamu kenapa diam banget sih?”
“Karena aku aneh.”
“Enggak begitu maksudnya...”
“Memang aku aneh kok. Selain aku, semuanya normal di sini.”
Wanita itu mengerutkan dahi. “Jawaban yang aneh. Tapi pertanyaanku bukan itu, aku tanya kenapa kamu diam banget?”
“Menurutmu, aku aneh enggak?”
“Ya... biasa saja, cuma anak pendiam. Tapi yang aku mau tanya itu... kenapa kamu jadi pendiam banget begitu? Tapi kalau enggak mau jawab enggak apa-apa deh, aku enggak maksa.”