Detik Ruang Keluarga

Pipo Vernandes
Chapter #6

B

“Yang, sudah jangan berantem lagi sama Adik.” 

“Enggak bisa. Dia itu anak aneh. Sama Ibu saja dia enggak ada hormatnya.” 

“Iya, tapi dia kan saudara kamu, satu-satunya loh.” 

“Mendingan aku enggak punya saudara daripada harus bersaudara sama dia.” 

“Enggak ada mantan saudara, Yang. Mau gimana pun, kalian itu satu darah “ 

Pagi hari di sebuah rumah makan, Johan dan wanitanya duduk menanti makanan yang sudah mereka pesan. Johan acap kali memegang pelipisnya yang tertempel sebuah plester dan sedikit bengkak. 

 

Ibu berdiri di depan pintu rumah, matanya tertuju pada ujung jalan yang penuh lalu lalang kendaraan. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.  

“Ibu... Kakak peringkat tiga di kelas.” Kakak melompat keluar dari sebuah mobil dan berlari mendatangi Ibu. 

“Wah... selamat ya, anak Ibu. Kamu pintar banget. Selanjutnya kamu harus peringkat pertama ya, Sayang.” Ibu mencium kening Kakak. 

“Siap, Bu. Tapi aku laper...” 

“Ayo kita makan, Nak.” 

“Bu, aku peringkat satu,” ucap Dayat berjalan pelan menghampiri. 

“Johan mau pakai apa, Nak? Ayam mau?” 

“Mau, Bu, mau,” Kakak mengangkat kedua tangannya. 

Lihat selengkapnya