4 Juni 2025 06:00
Keheningan kembali melanda rumah ini. Setidaknya, ada seekor cecak yang selalu bernyanyi mendekatiku. Ia bersuara sepanjang malam. Suara detikku seolah bersahutan dengannya hingga beberapa menit lalu.
Andaikan aku bisa berbicara dengannya, aku ingin bertanya apa yang terjadi di sini. Tapi aku tidak tahu berapa lama cecak hidup. Apakah cukup waktu hidupnya untuk menjadi saksi di rumah ini?
Saat sunyi, aku bermain dengan pikiranku sendiri, memikirkan tentang apa yang terjadi pada keluarga ini. Ada sesuatu yang rasanya mengganjal, tapi sulit aku menerkanya.
Saat ini Kakak baru pulang. Ia berjalan masuk dengan sebongkah batu bata merah di tangan kiri dan plastik bening berisi bubuk putih di tangan kanan. Ia menerawang plastik itu sambil terus berjalan dengan gegap gempita.
Suara pagar terdengar.
Kakak terkesiap dan plastik bening itu terjatuh lalu tertimpa batu bata merah di lantai. Wajahnya tegang, langsung mengambil benda tersebut. “Aduh, pecah lagi plastiknya.” Sekejap ia melirik ke arah pintu. “Sial banget! Untungnya masih ada satu paket lagi, tapi kan lumayan harganya. Ah sial!” Kakak membersihkan seadanya remah-remah bata yang ada di lantai dan berlari menuju kamar.
Adik membuka pintu, ia masuk dengan kotak hitam di tangannya, lalu langsung mengurung diri di kamar.
Beberapa menit berlalu Kakak membuka pintu perlahan, ia mengeluarkan kepalanya dari celah pintu melihat kanan dan kiri lalu badannya menyusul keluar dengan senyuman lebar dan gigi bergemeletuk.
Kakak kembali dengan rutinitasnya. Dan setelah itu, ia bersiap dan merapikan dirinya. Ketika terlihat ia terlihat sudah siap dan hendak pergi, ia menghentikan langkahnya dan duduk di sofa.
“Kok chat-nya enggak terkirim ya?” Kakak menempelkan ponsel itu di telinganya. “Ah, ini enggak aktif, apa lagi dicas ya?” Kakak mengangkat bahunya dan keluar dari rumah dengan botol-botolnya.
Pintu tertutup, pagar terkunci.
Adik membuka pintu perlahan dan mengeluarkan kepalanya dari celah pintu. Ia melihat sekitar dan menuju ruang belakang.
“Pak... Bapak...” Adik setengah teriak dari ruang belakang dan berjalan menuju kamar Bapak. Ia menarik gagangnya perlahan. “Belum pulang juga ini orang.” Ia menatapku, dahinya berkerut. Beberapa detik ia mematung. “Ya sudahlah, antar paket dulu.” Adik keluar rumah dengan kotak hitam yang ia bawa selalu.
Dua jam berlalu, suara sepeda motor masuk ke area rumah. Pintu terbuka, Adik masuk dan duduk di sofa dan meletakkan kotak hitamnya, punggungnya tersandar dengan tangan bersedekap.
“Bapak ke mana ya? Kenapa enggak pulang-pulang juga?” ucap Adik dengan wajah bingung. Matanya menyapa sekitar dengan bibir yang terkatup. “Semakin enggak mau mikirin, semakin kepikiran,” ucapnya lagi.
“Permisi...”
Suara keras dari luar pagar terdengar hingga ke dalam. Adik terkejut. Ia melihat ke arah sumber suara melalui jendela lalu berjalan keluar.
Sayup-sayup terdengar suara yang kurang jelas, hingga Adik kembali masuk dengan dua orang pria dan duduk di sofa.
“Itu kitab-kitabnya lengkap, Bang?” tanya seorang pria pada Adik.
“Enggak lengkap, cuma ada suratnya saja, kitabnya enggak ada.”
“Atas nama siapa motornya?”
“Destri.”
“Destri siapa?” tanya pria itu lagi.
Adik mengeluarkan secarik kertas yang terbungkus plastik dari dompetnya. “Destri Triani.” Ia menyerahkan surat itu pada kedua pria yang ada di serongnya.