Dayat menyusuri jalanan di muka rumahnya yang mempunyai halaman luas, di sekitarnya masih banyak perkebunan warga dan masih jarang rumah yang berdiri. Ia melangkah cepat menuju jalan raya, di sana sudah ada seorang pria yang menunggunya di atas sepeda motor.
Dayat menjadi pembonceng dan hening sepanjang perjalanan. Di sebuah stasiun kereta mereka berhenti, dan Dayat turun dari motor.
“Orangnya pakai baju biru Donal Bebek di depan tukang antigores sebelum pintu stasiun.”
Dayat mengangguk lalu berjalan sesuai arahan. Dari jauh ia melihat orang yang dimaksud, dan memberikan tanda dengan kedipan mata tiga kali.
Orang itu memegang kotak hitam. Dayat melewatinya tanpa berbicara, tangannya dengan cepat mengambil kotak menjadi tujuannya dan memasukkannya di kantung jaketnya.
Dayat terus berjalan menuju stasiun, ia diam sejenak dan kembali menuju rekannya. Orang yang membawa kotak sebelumnya sudah menghilang.
“Kerjamu bagus Bang Asher suka, makanya barangmu makin berat. Itu seperempat loh, Yat. Tapi lokasi kirim belum ada, kamu tunggu di rumah saja ya,” ucap rekan Dayat sembari memacu motornya.
Dayat memegang erat kantung jaketnya. “Iya, Bang. Ini kayaknya paling berat pernah aku bawa.”