Detik Ruang Keluarga

Pipo Vernandes
Chapter #9

5

5 Juni 2025 06:00 

Kakak pulang. Wajahnya masih dirundung panik. Ia kembali duduk termenung di sofa, dengan ponsel yang kuat melekat di tangannya. Matanya terus menatap tajam benda itu. 

“Ini dia ke mana sih? Kok enggak bisa dihubungi juga?” Suaranya lemah. “Enggak mungkin ke rumahnya, atau nanya keluarganya kan. Bisa-bisa habis digilas sama abangnya. Jadi harus gimana dong? Ah...” Kakak meletakkan ponselnya. 

“Eh, apaan nih?” Kakak mengangkat kotak hitam Adik. Ia putar dan bolak-balik dengan kedua tangannya. “Ini kayaknya punya anak aneh itu.” Ia meletakkannya lagi dan fokus kembali dengan ponselnya. “Sudah mau dua hari ini HP-nya enggak aktif. Ke mana sih kamu, Yang?” 

Kakak menuju ruang belakang lalu melakukan rutinitasnya seperti biasa. Suara kesibukannya mulai membuat hidup kondisi rumah yang semalaman mati. 

Setelah Kakak berkelahi dengan kewajibannya, ia tidak segera keluar, namun kembali duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Sayup terdengar suara pagar, Kakak tidak mengindahkan.  

Pintu digedor dengan cukup keras. Kali ini Kakak terkesiap dan segera menatap luar melalui jendela. Ia bergidik takut dan perlahan membuka pintu. 

“Bang Asher?” ucap Kakak terbata-bata. 

Dua orang pria berdiri di ambang pintu. 

“Lah! Ini bukannya rumah Dayat?” ucap salah seorang dari mereka. 

“Iya, Bang, betul. Aku kakaknya.” 

“Lah! Kalian saudara ternyata? Mana Dayat?” 

“Enggak ada, Bang.” 

“Kamu jangan bohong!” Pria yang lain maju, badannya tinggi dan kekar. Tangannya mencekik leher Kakak dan mendorongnya hingga tertempel di dinding. 

Kakak terlihat kesakitan dan kesulitan bernapas. Kedua tangannya memegang lengan pria itu. “Benar, Bang, aku baru pulang ini Bang.” 

“Kalian pasti mau main-main sama kami ya? Kalian mau ambil barang kami, kan?” 

Masih dengan kesulitan bernapas, Kakak tersengal dan tetap terbata-bata. “Maksudnya apa, Bang?” 

“Kamu tahu kan kalau Bang Asher sudah turun gunung, artinya apa?” sembari bertanya, tangan pria itu menyapa pipi Kakak dengan kuat. 

Kakak mengerang. “Masalah besar.” 

“Itu kamu tahu!” Ia kembali menampar Kakak, gerakannya sangat cepat dan tidak tertebak. 

Di saat pria itu asyik mencekik dan bersilaturahmi kasar dengan pipi Kakak, temannya, yang dipanggil Bang Asher menatap ruangan di hadapannya dengan pandangan memutar. Hingga ia terpaku pada sebuah kotak hitam yang berada di meja, ia mengambilnya dan memperhatikan dengan serius. 

Lihat selengkapnya