5 Juni 2025 15:00
Kakak membuka pintu dan terduduk lemas di sofa lalu menggosok hidungnya. Napasnya terdengar cukup berat, ia meringis ketika memegangi perutnya.
“Perasaan enggak jelas. Aduh... Destri kamu ke mana sih?”
Aku melihat wajah Kakak begitu pucat, bibirnya pun putih seperti mengering.
“Pikiran kosong banget enggak kalau enggak kena tuh barang. Tiba-tiba kepikiran Ibu gini. Mana sakit banget badan aduh!” ucap Kakak dengan badan yang bergetar.
Kakak tertidur meringkuk di atas sofa, badannya penuh keringat. Beberapa kali ia menggosok lengannya dan memukul tubuhnya. Napasnya berat dan ia beberapa kali merintih dengan suara serak.
Setelah beberapa saat ia bangkit membawa botol-botol kosong dari motornya, menuju ke area belakang rumah dengan tergopoh dan menyeret kaki. Ia berjalan melewati pintu demi pintu kamar yang berjejer di sebelah kanannya.
Selangkah melewati kamar Adik, pintu kamar itu terbuka perlahan tanpa suara. Adik muncul tepat di belakang Kakak langsung mengalungkan tangannya di leher saudaranya itu, sama seperti yang ia alami beberapa hari lalu.
Botol-botol berjatuhan—beberapa pecah dan yang lain menggelinding tanpa arah.
Adik menarik kuat leher Kakak ke belakang, hingga pria yang lebih tinggi darinya itu tidak berdiri sempurna. Urat tangan Adik menyembul kehijauan, namun ia kewalahan menjinakkan Kakak yang terus memberontak.
Mata Kakak melotot dan mulutnya menganga, ia mencoba terus melonggarkan tangan yang menjerat lehernya.
Adik melepaskan tangannya lalu menghantamkan kepala Kakak ke dinding di sampingnya.
Hantaman itu menggetarkan tempatku bergantung, suaranya cukup kencang. Tidak ada suara kesakitan yang Kakak keluarkan, ia langsung terkulai lemas menuju lantai.
Noda merah tercipta di dinding—tepat di tempat kepala Kakak mendarat. Adik segera membersihkannya, namun bekasnya masih tersisa. Ia duduk di samping Kakak dan tersenyum menyeringai lalu tertawa. Ia menarik karpet yang tertimpa badan Kakak menjauh dari tubuh saudaranya.
Di lantai, Kakak terbatuk, ia memegang kepalanya. Dahi kanannya mengalir cairan merah. Kakak menyekanya dan menatap tangannya yang memerah, lalu ikut tertawa bersama Adik.
“Kamu sudah besar ya, sudah bisa ngelawan Kakak, dan sekarang jadi kurir barang haram,” ucap Kakak di sela tawanya.
Adik terlihat tersentak, tawanya terhenti. Ia menuju Kakak dan menarik rambutnya hingga kepala saudaranya itu terangkat. “Mana paketku? Mana?!”
Kakak tertawa keras.
Adik melayangkan telapak tangannya di wajah Kakak.
Kakak melenguh. “Jangan kamu tanyakan lagi paket itu. Kakak sudah bikin kamu aman dari Asher,” jawab Kakak tersenyum.
“Maksudnya apa?”
Kakak tertawa lagi. “Aku sayang kamu, Dik. Aku jamin kamu aman dari Asher. Sudah jangan pikirkan lagi barang itu.”
“Mana barang itu, sialan?!” Adik mendaratkan lagi telapak tangannya tepat di pipi kiri Kakak berulang kali, hingga pipi pria itu mulai membiru bercampur merah.
Kakak sudah tidak bersuara, hanya batuk beberapa kali ia keluarkan disertai semburan merah dari mulutnya.
“Kakak sayang sama kamu, Dik,” ucap Kakak terbata-bata.
Adik terdiam, tangannya sudah berhenti memukuli. Sekarang ia menarik kuat kaus Kakak dan menanamkan wajahnya di dada saudaranya itu. Ia terisak cukup lama. Adik mengangkat lagi wajahnya, dan kembali menampar Kakak dengan keras.
“Kakak durhaka!” ujar Adik sembari tetap mendaratkan telapak tangannya. “Kakak selalu jahat denganku.”
“Enggak ada yang jahat sama kamu. Aku diamin kamu biar kamu itu belajar ngobrol sama orang, bukannya ngurung diri dan semua orang kamu anggap musuh.”
“Apa yang bisa aku obrolin kalau semua orang diam sama aku?” tanya Adik dengan suara bergetar.
“Ibu itu lagi menghukum kamu. Kamu itu kalau diomelin malah marah, didiamin malah enggak sadar juga. Ibu itu cuma mau kamu minta maaf.”
“Kalian semua sama saja, enggak ada yang peduli.”