Detik Ruang Keluarga

Pipo Vernandes
Chapter #12

7

6 Juni 2025 00:00 

Sedari tadi, aku mendengar hal yang asing dari luar rumah yang biasanya tidak pernah ada sebelumnya—seperti langkah kaki dan suara orang yang sedang berbincang.  

Sebelumnya, ketika dini hari saat rumah tidak berpenghuni. Aku hanya ditemani oleh seekor cecak yang setia bersahutan denganku, dan kini aku merasa sedikit berbeda. Setengah jam sekali suara mereka terdengar dan membuatku penasaran. 

Aku mendengar langkah seseorang masuk ke pekarangan rumah tanpa membuka pagar, lalu aku melihat ada wajah yang menempel di jendela rumah—cukup lama ia di sana. Tidak terlihat jelas seperti apa rupanya, tapi dari postur badannya ia terlihat cukup besar, setidaknya lebih besar dari Bapak. 

Sembari mengintip, orang itu berbincang dengan sangat pelan, nyaris tidak bersuara, mereka seperti burung-burung kecil yang berbisik dan mengambil fokusku. Suara mereka beriringan dengan racauan jangkrik dari luar. 

Mendadak aku terpikirkan Kakak dan Destri yang kini telah bersama. Ucapan Adik masih terngiang meski tidak sepenuhnya aku paham, karena ia sangat bertele-tele saat bicara. 

Kini aku bingung, aku tidak tahu apa yang dilakukan orang yang berada di depan rumah itu. Apakah mereka mempunyai hubungan dengan yang terjadi saat ini? Dan sekarang mereka masih berbincang di depan rumah, seolah menanti penghuni rumah kosong ini, atau memang menginginkan rumah ini tetap kosong? 

Mereka terus di luar hingga matahari membawa benderang. Aku merasa senang setiap gelap usai. Sejak aku di sini, rumah ini hanya terisi beberapa kali ketika malam hari. Sejak Bapak tidak pulang, kedua anaknya pun tidak pernah ada di waktu malam. 

Sinar matahari mulai terik menyelimuti, Adik pulang. Tidak berucap apa pun—karena memang tidak ada manusia lain di sini—Adik langsung masuk menuju kamarnya dan merebahkan badannya, ia langsung terlelap dengan pintu kamar yang terbuka. 

 

6 Juni 2025 12:00 

Matahari mulai mengisi ruangan dengan bias kuning melalui jendela. Angin meniup kencang melalui ventilasi—suaranya berdesing. 

Beberapa jam sebelumnya, rumah ini cukup berisik yang membuatku bingung dan tidak mampu untukku jelaskan. 

Suara motor terdengar dari luar dan samar-samar perbincangan terjadi setelahnya. Pagar terbuka diiringi langkah kaki yang mendekat. Lubang kunci berbunyi dua kali dan pintu terbuka. 

Bapak pulang. 

“Ayo, Pak, masuk!” ucap Bapak sembari menghadap belakang yang menandakan ia tidak sendiri. 

Bapak berdiri di ambang pintu dengan tas besar dan memegang sebuah kardus bertali. Bapak mematung, matanya membelalak. “Dayat!!!” teriak Bapak mengagetkanku. 

Pria yang berada di belakang Bapak mengintip dan ikut berteriak setelahnya. Ia berlari meminta tolong, suaranya samar dan terasa semakin jauh. 

Bapak menanggalkan barang bawaannya dan masuk ke dalam dengan histeris. Pria tadi kembali dengan beberapa orang, mereka tercengang melihat Adik yang tergantung di kusen pintu kamarnya. Badannya mulai membiru, dengan matanya yang setengah terbuka dan mulutnya yang tidak rapat. 

Salah seorang dari mereka merangkul Bapak dan mendudukkannya di sofa sembari terus meraung. 

Keadaan semakin ramai hingga bunyi “tot tot” terdengar dari luar, empat orang pasukan cokelat tiba. Mereka datang dan meminta warga keluar—menyisakan beberapa di dalam rumah. Dengan tenang mereka menatap Adik, dan memperhatikannya dengan saksama. Sementara yang lain masih berusaha mengeluarkan warga dari area pekarangan rumah—beberapa warga masih berusaha mengintip dari jendela. 

Tot tot” kembali bergaung, beberapa pasukan cokelat kembali masuk. Dengan tangan terbungkus sarung tangan, mereka menyebar melakukan kegiatan masing-masing, mengamati tubuh Adik dan berkeliling dengan kamera di tangan.  

Mereka terus mengabadikan gambar pada setiap sisi rumah, dan termasuk aku yang beberapa kali diterpa lampu yang berasal dari kamera—aku sangat yakin penampilanku pasti bagus di sana. 

Beberapa dari mereka yang berada di dekat Adik, melihat tubuh itu sembari beberapa kali menunjuk dan berbincang sangat pelan dengan wajah yang terlihat ragu. Mereka menatapku dan kembali berbincang dengan tangan yang terlihat seperti berhitung. 

Salah seorang polisi memperhatikan tubuh Adik dan noda pada dinding, lalu berbalik badan menuju kunci rumah yang tergeletak di lantai. Sejenak ia berjongkok dan terdiam di sana, matanya menatap tajam kunci itu sembari memainkan dagunya. Setelahnya, ia berdiri dan berjalan menuju Bapak yang masih histeris. “Pak, perkenalkan, saya Reza, saya Kepala Unit Kriminal,” ucapnya, “kalau boleh tahu dengan Bapak siapa?” 

“Leman Hayat.” 

“Baik, Pak Leman. Ini anak Bapak ya? Atas nama siapa, Pak?” 

“Dayat Dwi Hayat.” Bapak sesenggukan. 

“Pada saat kejadian, Bapak tidak ada di rumah?” 

Bapak mengangguk. “Saya baru pulang mudik, Pak.” 

“Oke..., jadi Pak, untuk kondisi korban ini kita butuh pemeriksaan lebih lanjut dan akan visum atau bisa juga diautopsi setelahnya, jika kita menemukan hal yang mengganjal,” ucap Reza. 

Lihat selengkapnya