7 Juni 2025 08:00
Bapak pulang dengan terhuyung, matanya terlihat sangat berat untuk terbuka. Setelah menyapa polisi yang berjaga di depan rumah, ia mengempaskan pantatnya di sofa lalu mendesah dan menunduk dengan tangannya aktif memijat dahinya.
Kedua pasukan cokelat di depan rumah berganti dengan petugas baru, mereka menjelaskan pada Bapak larangan untuk masuk ke dalam kamar.
Beberapa tetangga kembali mendatangi rumah. Mereka coba berbicara dengan Bapak yang tidak begitu bersemangat dalam menjawab, terkadang hanya tatapan mata yang kosong menjadi jawaban.
Semakin siang semakin ramai warga yang berkumpul. Mereka membuat susunan kursi di halaman luar dan rumah ini kembali ramai seperti kemarin. Bapak hanya termenung duduk di sofa melihat warga yang memadati rumahnya.
Warga datang dengan membawa makanan yang semakin lama semakin banyak, hingga aku dapat melihat tumpukannya di ruang belakang yang kebanyakan adalah buah-buahan.
Jam demi jam terlewati, siang sudah menghampiri. Suasana ramai masih terjaga sejak tadi. Tepat jam dua belas, Adik pulang tetap dengan berselimut pembungkus berwarna jingga. Ia dibawa oleh beberapa petugas dan menyerahkannya pada Bapak. Para warga mengerubungi tubuh Adik dan membawa tubuhnya keluar rumah. Mereka bilangnya mau dibersihkan dan dikebumikan.
Rumah hanya menyisakan beberapa wanita dan yang pastinya mereka adalah warga sekitar. Mereka berbisik dengan sangat pelan, seolah mereka tahu jika aku ikut mendengarkan. Hingga para pria kembali, para wanita ini baru berhenti berbicara. Bapak masuk rumah dengan kondisi kotor tertempel tanah.
Senja menyisakan sepi, semua orang sudah pergi. Namun saat malam tiba, rumah ini kembali ramai dengan warga yang berbondong-bondong datang kembali. Mereka jauh lebih ramai dan berkumpul untuk melantunkan hal yang tidak aku mengerti. Bapak hanya diam, bibirnya tidak bergerak sedikit pun, kepalanya hanya tertunduk dengan tatapan kosong.
Saat malam semakin larut dan semua warga sudah meninggalkan rumah. Suasana hening langsung menyergap, hingga suaraku nyaring berbunyi. Teman cecakku tiba dan menemaniku, seolah pengusir sepi saat aku bernyanyi sendiri.
Aku memandang Bapak yang sibuk dengan ponselnya, beberapa kali ia menempelkan ponselnya di telinga, tapi ia tak berbicara apa pun. Ia seolah bingung dalam kediamannya dan menggantikan raut wajah sedih yang seharian ia tampilkan.
Dini hari tiba, pintu utama diketuk pelan. Bapak memandang ke arah suara, ia perlahan bangkit dan membukanya. Terlihat dua orang berdiri di ambang pintu, mereka tersenyum dan menjabat tangan Bapak.
Kopi terhidang menyelinap di antara dialog yang terjadi. Sedikit camilan sisa keramaian tadi pun tidak lupa tersaji. Bapak menyerahkan sebuah amplop cokelat besar dan mereka pergi. Namun sebelum meninggalkan rumah salah seorang pria berkata, “Sepertinya dia sudah tahu.”
Bapak menutup pintu dengan dahi mengernyit. Lama ia terdiam lalu tertawa setelahnya dan seketika menjadi tangis. Ia mengusap wajahnya dan menghela napas lalu tidur di atas karpet.
Dengan kepintaran yang belum banyak ini, aku masih mencoba menerka dan menganalisis apa yang terjadi. Kenapa ekspresi Bapak sangat banyak dalam satu waktu?
8 Juni 2025 08:00
Hari ini, kondisi ramai menyelimuti rumah. Aku melihat semua warga kembali berkumpul, mereka seakan tidak enak meninggalkan Bapak seorang diri. Saat semua acara seperti telah usai dan warga telah pulang, pasukan cokelat kembali datang.
Mereka tiba dengan seragam khasnya, aura gagah datang dari baju, tapi ada juga yang menggunakan pakaian biasa. Beberapa dari mereka ada yang mempunyai rambut panjang seperti wanita, ya rambutnya panjang seperti wanitanya Kakak—satu-satunya wanita yang aku lihat sebelum keramaian ini.
Mereka duduk di lantai bersama Bapak. Sofa yang selama ini mengisi ruangan tersingkir oleh karpet yang mengembang. Mereka membentuk lingkaran dengan semua mata yang tertuju pada Bapak.
Pertanyaan pembuka dari pasukan cokelat pada Bapak adalah terkait keberadaan Johan, dan gerakan kepala Bapak ke kanan dan kiri sebagai jawaban.
“Baiklah.” Reza mengangguk. “Pak, kita sudah dapatkan hasil analisa sementara, rasanya aneh jika peristiwa ini dikatakan bunuh diri,” ucap Reza dengan serius.
“Bukan bunuh diri, Pak?” tanya Bapak dengan tatapan bingung.
“Betul! Dari tampilan fisik luar korban terdapat bekas genggaman pada kedua lengannya. Garis tali pada leher ada percabangan, satu ke arah belakang, dan satunya ke arah atas melewati belakang telinga dan rambut. Bapak bisa melihat foto-foto ini.” Reza menyerahkan kepada Bapak beberapa lembar kertas yang berisi gambar. “Di foto ini juga ada serpihan cat sofa dan beberapa helai rambut, ada bekas gesekan tali pada sofa. Pada hasil cek lab serpihan itu juga kita temukan jaringan kulit korban.”
Bapak melihat kertas itu dengan dahi yang berkerut, wajahnya jelas tidak tenang lagi. “Atau mungkin semua karena Johan?”
Reza tidak menggubris. “Ini yang saya bilang bekas genggaman dan ini percabangan garis tali yang cukup aneh.” Reza menunjuk hal yang ia sedang jelaskan. “Ini jelas sebuah keanehan untuk kasus bunuh diri, normalnya orang yang gantung diri tidak akan ada tanda-tanda fisik seperti itu. Makanya saya minta dari awal ini untuk diperdalam. Untuk tuduhan Bapak pada Johan, apa Bapak punya penjelasan?”
“Mereka sempat berkelahi dan saling pukul sebelum saya pulang mudik. Mereka itu enggak pernah akur dari kecil, ada saja yang mereka ributkan setiap hari. Mungkin itu yang jadi motif Johan, dan mungkin dia sekarang sedang kabur buat menghindari perkara ini.”
“Bapak yakin dengan hal itu?” tanya Reza memajukan badannya.
Bapak mengangguk.
“Bapak bisa cek di dinding ini ada noda.” Reza kembali menyerahkan selembar foto dan menunjuk dinding yang dimaksud. “Bapak tahu ini noda apa?”
Bapak menggelengkan kepala.
“Oke, akan kami catat keterangan dari Bapak.”
“Itu noda apa?” tanya Bapak menatap langsung dinding yang bernoda.
“Bapak bisa baca ini dengan keras?” Kembali Reza menyerahkan selembar kertas, kali ini tidak bergambar.
Bapak mengambil kertas itu dan langsung membacanya.
Tugasku sudah selesai, Pak. Sesuai dengan apa yang Bapak minta. Aku sudah buat hilang nyawa Kakak dan pacarnya. Bapak juga pasti bangga denganku sekarang, sama kayak dulu waktu aku bisa selesaikan tugas untuk meracuni Ibu. Dulu wajah Bapak senang banget, waktu aku bilang, “Ibu sudah enggak ada.”
Oh. Iya! Kakak sama pacarnya ada di bawah kasur Bapak ya. Semoga Bapak bisa senang tidur di atas mereka.