Stridulasi
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sekarang aku bisa melihat sekitarku lagi. Tapi semuanya berubah, aku kini menghadap langit-langit rumah. Kacaku tidak utuh dan mesinku kini sudah tidak berdetak, aku merasakan punggungku tidak lagi menempel sebuah baterai. Apa yang terjadi? Dan kenapa aku masih bisa melihat?
Pandanganku menerawang, menatap plafon rumah berwarna putih dan bercorak kuning kecokelatan yang membentuk pola acak seperti pulau-pulau pada peta.
“Bagaimana kisah keluarga ini?”
Sebuah suara masuk ke dalam pendengaranku di tengah sunyi rumah tak berpenghuni. Suara itu turut menyadarkanku yang sedari tadi bingung dengan terbatasnya pandanganku.
“Suara siapa itu?” tanyaku untuk menjawab penasaranku.
“Aku yang selalu menemanimu.”
“Menemaniku?”
“Ya... aku yang selalu mengisi kosong di antara detakmu.”
Seekor laba-laba berjalan menutupi pandanganku. Spontan aku berteriak dan mengusirnya.
“Hei, tenang-tenang.”
“Jadi kau seekor laba-laba?”
“Ya, betul sekali. Aku tertawa setiap kali kau menuduhku seekor cecak.”
“Aku tak tahu kalau laba-laba bisa bersuara.”
“Ya, seekor laba-laba dengan jenis tarantula seperti aku bisa mengeluarkan suara dengan stridulasi, aku menggosokkan bagian-bagian tubuhku.”
“Maafkan aku, selama ini aku kira kalau kau seekor cecak, dan ternyata kita bisa berkomunikasi ya? Kenapa kau tak lakukan sejak awal saat aku berada di sini?”
“Aku maafkan atas ketidaktahuanmu. Tentu kita bisa berkomunikasi, aku yang membuat kau begini, dan aku sengaja tak mengajakmu berbicara sedari awal, agar penilaianmu tak terpengaruh pendapatku.”
“Jadi kau yang menciptakanku?”
“Bukan! Tapi aku hanya meminta untuk memindahkan kesadaranmu.”
“Kesadaranku? Apa maksudmu?”
“Ya atas izin Tuanku, aku minta kesadaranmu dipindahkan di jam ini.”