Tak Terbatas
Gulita.
Sunyi.
Pikiranku dirasuki banyak hal, setelah laba-laba itu bicara jika ia akan memulihkan ingatanku. Kesadaranku seperti ditarik menjauh dari saat ini, sedangkan penglihatanku berisi semua memori masa lalu.
Dimulai dari ingatan pertamaku saat aku berusia tiga tahun lebih. Semuanya perlahan masuk berduyun-duyun. Kilas balik semua cerita, dari masa anak-anak, remaja, dewasa, sekarat, dan mati.
Aku melewati satu masa yaitu masa tua. Setidaknya usia lima puluh tahun lebih sedikit itu tidaklah tua, usia itu adalah usia pasca dewasa menurutku.
Aku tidak mengalami pegal-pegal, sakit pinggang, penurunan ingatan dan penglihatan, atau penyakit-penyakit umum para orang tua. Aku mati pun karena diracun, bukan karena sakit secara alami.
Lagi pula menurutku, “tua” itu adalah kata yang menakutkan. Jika kita punya keluarga, kita pasti akan menyusahkan mereka karena kita tua. Jika tak punya keluarga, maka itu adalah kesepian dalam keterbatasan dan pasti akan memancing iba dari tetangga. Belum lagi kata itu sangat dekat dengan kata sakit, mereka selalu seiring sejalan. Maka banyak manusia yang begitu mengagungkan kata muda—termasuk aku.
Aku begitu takut tua, itu adalah fase hidup yang tak ingin kulewati, dan sepertinya inginku dikabulkan melalui tangan anakku sendiri.
Aku membayangkan hari tuaku yang sudah sulit beraktivitas dalam kesendirian. Semua anak-anakku sibuk dengan dunia dan keluarga mereka sendiri. Mereka pasti mengkhawatirkanku dan dengan terpaksa harus mengunjungiku, meluangkan waktu barang satu jam dalam hidup mereka sehari. Sungguh itu adalah beban.
Aku membayangkan hal lain, yaitu hari tuaku dalam satu atap bersama anakku dan keluarganya. Ada beberapa kebiasaan pasangan anakku yang tak sesuai denganku, lalu aku memarahinya hingga mereka tak nyaman dalam berumah tangga. Aku menjadi sumber api di tengah hubungan suami istri, hingga anakku seperti harus memilih aku atau pasangannya. Itu juga adalah beban.
Aku juga membayangkan, jika hari tuaku satu atap dengan anakku dan pasangannya. Ada beberapa kebiasaan pasangan anakku yang tak sesuai denganku, lalu aku mendiamkannya dan makan hati setelahnya. Lama-kelamaan semuanya membuatku tak nyaman, hingga aku putuskan untuk keluar dari rumah dan menempuh kesendirian. Itu juga termasuk beban.
Aku membayangkan lagi, kali ini hari tuaku dalam kesendirian, anakku tak pernah datang mengunjungiku. Mereka seolah lupa dengan diriku yang sudah rapuh dan tak mampu banyak beraktivitas. Tua semakin membuatku lupa, dan pikiranku mulai terasa seperti balita. Lupa dan pemarah akan akrab denganku, begitu juga dengan rasa kantuk. Semua tak akan normal lagi hingga aku tiada. Ini adalah sebuah penyiksaan.
Terakhir, aku membayangkan jika hari tuaku tak pernah terjadi. Aku meninggalkan dunia dengan segala kerumitannya sebelum tua tiba. Kesendirian di dunia saat tua terasa lebih berat jika dibandingkan dengan kesendirian di dalam tanah dalam keabadian. Setidaknya aku tidak pernah tua dan keagunganku pada masa muda terwujud dengan kematian.
Bayangkan... dengan kematian, harapanku terpenuhi. Apa yang lebih menyenangkan dari sebuah cita-cita yang terwujud? Aku merasakan tenteram. Sesungguhnya kematian itu adalah jalan keluar terbaik untuk mendapatkan kedamaian.
Dan kini aku teringat bertahun-tahun lalu ketika aku bertemu dengan Leman. Seorang karyawan yang begitu giat bekerja. Ia tinggal bersama Ibunya yang sudah tua di sebuah rumah kontrakan reyot. Bajunya lusuh ketika di kantor, seperti angin perjalanan menerpa hebat kemejanya yang berwarna putih kekuningan—seragam kerja kami seharusnya putih tanpa noda.
Jarak tempat tinggal Leman cukup jauh dari kantor, tentu di saat gelap ia sudah harus memacu sepeda motornya menuju kota. Di rumahnya, tinggal ibunya seorang diri yang terkadang lupa dengan dirinya sendiri. Penghasilan Leman tak cukup untuk membawa ibunya lebih dekat atau membayar orang untuk mengurusi. Itulah batas kemampuannya.
Sejak awal aku mengenalnya, ia adalah pencari uang yang giat, karena uang sebesar biji nangka pun akan ia kejar dengan beringas. Begitulah kesan pertamaku padanya. Ia rela keluar dari rumah ketika ibunya sudah terlelap di malam hari untuk mengais rezeki di stasiun kereta. Menanti para penumpang yang akan ia antar dengan sepeda motornya.
Leman tak cukup bisa membahagiakan dirinya secara normal, karena kebahagiaannya terletak pada bekerja. Saat dini hari, ia baru memejamkan matanya dan bangun dua jam setelahnya. Ia kembali mengurusi ibunya, membersihkan, membuatkan makanan, dan memastikan semua obat yang akan dikonsumsi ibunya selama Leman bekerja.
Siang hari tiba, makanan untuk ibunya telah tersedia di meja dekat dengan tempatnya berbaring—makanan itu sudah dingin, karena sedari pagi sudah berada di sana. Ketika malam Leman pulang, popok ibunya pasti sudah penuh dan sudah saatnya untuk diganti.
Leman selalu melahap makan malam sembari melihat ibunya yang meracau sendiri, seperti balita yang sedang bermain dengan dunianya sendiri—ia menangis dalam senyumnya.
Leman mempunyai dua orang kakak yang tak lagi peduli. Dengan alasan kehidupan yang susah, mereka enggan untuk membantu. Ayahnya sudah lama tiada, meninggal karena depresi ketika usahanya bangkrut, dan meninggalkan setumpuk utang yang harus diselesaikan.
Aku selalu menyemangatinya. Hubungan kami layaknya rekan satu kantor dengan tambahan rasa empatiku padanya. Aku merasa iba padanya, tapi hanya sebatas itu yang mampu aku beri padanya. Tak jarang, aku terpikirkan di kala hujan menyerang di saat waktu pulang kerja tiba. Kesusahan apa lagi yang akan ia hadapi malam ini? Aku tak tenang, aku hanya bisa menanti esok hari ia kembali bekerja dengan senyuman.
Jelas aku tak memandang fisiknya, karena ia terlihat biasa saja. Aku tak juga memandang hartanya, apa lagi keturunan siapa dirinya. Aku sadar aku tak berhak menilai seseorang dari semua itu, karena aku sendiri bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Aku kagum dengan perjuangannya.
Aku merasa nyaman saat berbicara padanya. Sikapnya yang pendiam terkadang menimbulkan tanya, ia jarang berterus terang dengan kondisinya. Aku tahu kesulitannya setelah cukup lama kami berteman, dan juga setelah aku memaksanya berbicara.
Mataku sering berkaca-kaca melihatnya yang tersenyum padaku, ia selalu berucap jika besok tak ada yang tahu. Ia selalu yakin hidupnya akan lebih baik.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengucapkan rasa sayangku padanya, dan ia menolakku. Ia enggan untuk berhubungan seperti pacaran yang hanya akan menyusahkan dirinya untuk mengurusi ibunya.
Aku tak marah. Justru aku bahagia, aku tahu ia tak akan ke mana-mana meski ia bukan milikku. Ia akan terus sendiri dan menenggelamkan diri pada kesibukannya. Namun itu tak lama, hingga akhirnya ibunya tiada. Beberapa minggu setelahnya, ia meminangku.
Sejujurnya, kisahku sendiri tak kalah menyedihkan. Aku adalah anak yang lahir dari ratusan kali percobaan. Aku hidup di keluarga berada, dengan Ayah yang menjadi pejabat daerah, dan Ibu adalah seorang istri pejabat yang tak pernah diam di rumah.
Aku melihat fotoku sewaktu kecil dengan mobil berwarna merah, putih, dan ada yang berwarna hitam, aku bebas mau pakai yang mana. Masa itu indah, sopir pribadi tersedia untukku, dan terkadang Ayah sendiri yang mengantarku ke sekolah jika ia sedang tak sibuk.
Semua keindahan itu tak berlangsung lama, seolah semu dan meninggalkan banyak kenangan buruk.
Suatu malam, rumah kami ramai didatangi oleh polisi. Ayah yang sedang mandi terkejut karena pintunya didobrak. Ia ditarik paksa dengan hanya terlilitkan handuk pada badannya. Ayah marah, ia merasa terhina sebagai bupati. Namun mereka tidak peduli dan terus menarik Ayah ke dalam sebuah mobil. Itulah kenanganku atas suara Ayah yang berbaur dengan suara air menghunjam lantai di ingatanku semasa kecil.
Ayah terjerat kasus korupsi yang tak pernah ia mengakuinya di hadapan publik. Ia dikurung selama lima belas tahun, dan seluruh harta kami harus dikembalikan pada negara—kecuali harta yang Ibu miliki, termasuk rumah ini.
Rumah ini adalah bangunan tua dengan halaman yang luas—warisan Kakek untuk Ibu. Luasnya tanah yang terbentang di sekitar bangunan ini, terkadang membuatku merasa seperti tinggal di dalam hutan—tak terdengar suara tetangga, hanya jangkrik yang mengisi hening.
Ibuku sangat hancur, ketika semua harta Ayah yang ia banggakan diambilalih oleh negara. Mendadak jiwa ekstrovernya menghilang, ia lebih sering mengurung diri di rumah. Semua asisten rumah tangga dan sopir yang kami miliki memilih untuk pergi. Mereka malu bekerja pada manusia yang merugikan banyak orang.
Tinggallah si anak tunggal ini dan ibunya yang tak lagi memiliki semangat hidup. Selama Ayah dalam masa penahanan, perlahan Ibu berjuang dengan menjual sisa-sisa kekayaan warisan orang tuanya. Tak ada yang dapat membantu kami. Keluarga besar menjauhi kami karena malu—seolah kami adalah jamur jahat yang ada di kulit.
Ibu berasal dari keluarga konglomerat era Perang Dunia II. Ayahnya atau Kakekku adalah seorang pengusaha tembakau dan memiliki perusahaan rokok yang tersohor. Kakek memiliki tujuh anak yang hidup dan enam yang sudah tiada. Ia selalu memperlakukan semua anaknya dengan adil, meski tak jelas siapa ibu mereka. Semua anaknya berasal dari rahim gundik-gundiknya—ia tak pernah terikat pernikahan.
Kakek meninggal ketika sebuah perusahaan rokok dari luar negeri membangun pabrik di dekat perkebunannya dan perlahan menghancurkan bisnisnya. Sejak proses pembangunan berjalan, Kakek sering mendatangi pabrik tersebut dan mengungkapkan kekecewaannya, namun ia tak pernah digubris. Ia juga memprotes terhadap pemerintah daerah terkait pembangunan pabrik yang tak meminta izin warga. Sayangnya, perusahaan itu lebih kuat di mata pemerintah.
Setiap hari Kakek pergi ke kantor polisi dan mencoba membayar mereka untuk menutup pabrik itu, ia juga menyewa beberapa orang untuk mengacaukan operasional perusahaan tersebut. Tapi setelah bertahun-tahun, semua usaha itu tak kunjung berhasil.
Kakek sudah banyak menghabiskan hartanya, sedangkan penghasilannya terus merosot. Banyak karyawannya yang mulai pindah ke pabrik baru itu dengan iming-iming gaji yang lebih besar.
Hingga suatu hari, Kakek yang telah sangat tua mendatangi pabrik itu. Ia membawa murka dan amarah yang sudah lama ia timbun, tetapi sejak saat itu ia tak pernah kembali.
Seluruh anggota keluarga mencari Kakek, termasuk Ibu yang masih kecil. Mereka melaporkan hal tersebut kepada pihak berwenang dan juga mendatangi pabrik itu.
Mendapatkan penolakan. Mereka tertahan hanya sampai depan gerbang pabrik yang menjulang tinggi dan besar. Para penjaga yang merupakan warga lokal menghadang. Padahal, sebelum semua ini, para penjaga itu adalah warga yang sering dibantu dan turut merasakan kejayaan bisnis Kakek. Namun semuanya tinggal cerita, perut tak akan kenyang hanya dengan jasa di masa lalu.
Hari berganti, tak ada yang tahu di mana Kakek berada, termasuk petugas kepolisian yang dulu setiap hari datang untuk sekadar meminta beberapa bungkus rokok. Ketujuh saudara ini pun terlantar.
Si anak sulung sudah cukup dewasa untuk menggantikan peran Kakek, tetapi kenyataan berkata lain. Ia hanyalah anak manja yang tumbuh dengan semua kemewahan, bahkan menyisir rambutnya pun ada seseorang yang dibayar untuk melakukan itu. Tak ada upayanya untuk bisa bertahan hidup selain menjual apa yang Kakek punya.
Mereka membagi semua harta kakek dengan adil, yaitu lahan yang luas dan beberapa rumah. Ibu mendapatkan rumah yang kini kami huni beserta beberapa bidang tanah.
Usia Ibu baru enam tahun saat itu yang membuatnya harus tinggal dengan saudaranya. Ia berpindah dari satu rumah ke rumah lain, hingga ia dewasa dan memutuskan untuk hidup sendiri di rumah ini.
Hidup di kesendirian, Ibu bilang ia menyukainya, walaupun itu membuatnya banyak berpikir karena tak ada yang mengurus dan mengaturnya. Ia seperti seekor burung yang baru lepas dari kandang. Meski ia belum tahu akan menjadi apa, setelah lulus SMA ia memberanikan diri untuk mandiri.
Hingga Ibu bekerja sebagai tenaga honorer, ia begitu berobsesi untuk dapat bergabung menjadi pegawai negara karena rasa trauma atas peristiwa yang menimpa Kakek. Gajinya tak cukup untuk menunjang kehidupan mandirinya, dan ia kembali mengandalkan saudara-saudaranya untuk membantu si adik bungsu.