Detik Ruang Keluarga

Pipo Vernandes
Chapter #16

11

Leman Bercerita 

Keluarganya hancur, ketika sebuah proyek jalan tol ambisius yang ingin menghubungkan satu negara mulai beroperasi. Tentu itu adalah hal yang bagus, tetapi bukan itu permasalahannya. 

Di suatu tempat, Leman menatap benci jalan tol itu. Ia duduk di atas sebuah bangunan tempat orang tuanya menggantungkan hidup—di atap rumah makan milik keluarganya yang juga menjadi tempat mereka bermukim. Tempat itu sedang menghitung hari menuju kematian. Bagaimana tidak, proyek itu tak menyisakan seseorang pun yang lalu lalang di jalan yang lama. Tak ada lagi turis yang datang dan menyantap makanan yang mereka masak setiap hari. 

Pandangan kebencian itu terus bertumpuk setiap hari, apalagi ketika ayahnya jatuh sakit karena membayangkan apa yang diwariskan padanya hancur perlahan.  

Bukan tak ada usaha, ayahnya sudah melakukan beberapa hal seperti membuka cabang di tempat yang strategis menurutnya agar kembali menjaring para turis itu. Tapi ternyata, hasilnya mengkhianati semua usahanya. Semua langganannya yang dulu seolah tak lagi mengenali masakannya. 

Tak menyerah, ayahnya terus mencoba seperti membawa embel-embel “Sejak Tahun 1965” dan menggunakan kata “Asli”, tapi hasilnya pun tetap sama. 

Aku sadar, bahwa sebuah tempat untuk bisnis itu adalah hal yang krusial. Bahkan untuk rumah makan legendaris yang menciptakan sebuah resep yang menjadi makanan khas daerah tersebut. 

Semua orang mengenal usaha keluarga Leman dengan tempatnya yang lama—bukan dari masakannya—karena begitu banyak peniru yang terkadang membingungkan para pengunjung. 

Usaha mereka berpacu dengan waktu, pendapatan sudah tidak mampu lagi menutupi pengeluaran. Modal dan tabungan mulai tergerus secara perlahan, hingga aset-aset mereka pun mulai berganti pemiliknya. Apa pun ayahnya lakukan hanya untuk dapat terus menghidupi apa yang telah menghidupi mereka selama ini. 

Namun malang tak dapat ditolak, setelah bertahun-tahun berusaha untuk menyambung napas rumah makannya, akhirnya mereka menyerah. Bisnis keluarga mereka pun tak dapat lagi berkembang, malah semakin menyusut dan menghilang.  

Mereka pindah menuju daerah pinggiran yang masih banyak ditumbuhi tanaman liar dan dengan jalan yang berupa tanah merah—jika hujan deras melanda, maka bisa dipastikan kuda nil dapat berendam di jalanannya yang naik dan turun. Mereka seperti berada di pengasingan, menutup diri dari dunia luar karena malu dengan kegagalan yang mereka alami. 

Leman terus mengumpat pada jalan tol tersebut setiap ia melihatnya. 

Hingga beberapa tahun kemudian, berita yang menggemparkan sampai ke dalam rumah mereka. Seorang mantan bupati dan bupati yang sedang aktif digelandang polisi karena terbukti “bermain” dalam proyek pembangunan jalan tol tersebut. Senang bukan kepalang keluarga itu, mereka menangis bahagia. Namun di saat yang sama, kesedihan pun tak sungkan datang tiba-tiba. Mereka mengingat mendiang ayah mereka yang mungkin sedang tersenyum saat itu. 

Leman sempat terhanyut dalam kebahagiaan sesaat, tapi kini ia harus menanggung semua beban sendiri. Saudara-saudaranya kini telah memiliki keluarga yang tak kalah susahnya dibandingkan ia dan ibunya. Sungguh kemiskinan itu begitu menular dan mencengkeram kuat jiwa seseorang. 

Leman telah bekerja sembari menempuh pendidikannya di perguruan tinggi. Hasratnya untuk tetap hidup begitu kuat, ia bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. 

Sampai akhirnya Leman bertemu denganku, dan aku masih merasakan malu saat menyampaikan perasaanku padanya, apalagi ketika ia menolakku. Namun aku tahu ia tidak sungguh-sungguh, dan aku pun tak sakit hati karenanya. Setelah ibunya meninggal, ia berbalik menyampaikan perasaan sayangnya padaku. Tak sampai seperempat menit, aku menjawab pertanyaannya dengan kata, “mau”. Hatiku berteriak bahagia saat itu dengan jantung yang tak bisa aku kendalikan detaknya. 

Pada saat itu Leman mengungkapkan bahwa ia tulus padaku, setidaknya sampai ia mengetahui kalau aku ini adalah anak dari mantan bupati yang membuat keluarganya hancur dan ayahnya depresi hingga mati. 

Lihat selengkapnya