"Tumben lo mau ikut nonton gue balap malam ini?"
Andi berdiri di sebelah gue dengan seringai lebar. Tatapannya seolah masih nggak percaya kalau sahabatnya yang awam soal balap liar ini rela menghabiskan malam Minggu di pinggir jalan sekitar Taman Mini, tepat pukul satu dini hari, pada pertengahan Juli 2015.
Bau knalpot bercampur oli samping menusuk hidung. Raungan mesin bersahutan, memecah sunyi malam yang seharusnya sudah menjadi milik orang-orang yang terlelap. Di sepanjang jalan, orang-orang berkerumun. Sebagian bersorak, sebagian sibuk memasang taruhan, sementara sisanya menunggu jagoan mereka turun ke aspal.
Gue seorang soundman. Sehari-hari pekerjaan gue nggak jauh dari menggulung kabel, menyetel mikrofon, dan memastikan suara di panggung sebuah acara terdengar sebagaimana mestinya. Kebisingan bukan sesuatu yang asing buat gue. Tapi malam ini, suara mesin terasa berbeda. Ada sesuatu dari raungannya yang membuat perhatian gue terus tertuju pada Andi, meskipun berusaha gue sembunyikan di balik sikap santai.
"Tadi sore gue baru kelar event. Besok libur," jawab gue. "Makanya gue ikut lo."
"Bilang aja lo pengen ngomongin Dini, tetangga baru gue. Hahaha!"
Andi menyenggol bahu gue, lalu tertawa puas melihat reaksi gue yang langsung berubah.
Sialan.
Dini memang baru beberapa minggu pindah ke rumah yang persis berada di depan rumah Andi. Dan jujur saja, senyumnya saat menyiram tanaman di teras sore-sore, ketika gue main ke rumah Andi, masih tertinggal di kepala gue sampai malam ini.
Ada hal-hal kecil yang terkadang menetap lebih lama dari yang kita duga. Sesederhana sebuah senyuman, mungkin? Iya, mungkin.
"Sembarangan lo. Gue murni mau nonton lo balap."
"Alah, ngeles! Tiap main ke rumah gue, mata lo melipir terus ke teras depan."
Gue baru saja membuka mulut untuk membantah ketika Andi lebih dulu menepuk bahu gue.
"Udah ah, gue siap-siap dulu. Motor udah dipanasin tuh."
Dia menunjuk ke arah jalan dengan dagunya. Gue cuma bisa menggeleng sambil tertawa. Dasar Andi. Mulutnya memang nggak pernah bisa diam kalau sudah menemukan bahan buat ngeledekin gue.
Sebelum naik ke Ninja 2-tak merah kesayangannya, Andi melakukan ritual kecil yang sudah sering gue lihat. Dia mengepalkan jemari, lalu menepuk dadanya sendiri seolah sedang mengumpulkan keberanian sebelum menghadapi sesuatu.
Di garis start, rivalnya sudah menunggu di atas motor. Nggak ada helm, nggak ada jaket, apalagi pelindung tubuh. Mereka cuma mengenakan jeans, sepatu kets, dan sweater, seolah yang dipertaruhkan malam itu hanya harga diri.
Padahal, satu kesalahan kecil saja bisa mengubah segalanya.
Di tempat seperti ini, keberanian seolah diukur dari seberapa nekat seseorang memacu motornya. Risiko terbentang jelas di depan mata, tetapi entah kenapa, hampir nggak ada yang benar-benar peduli. Yang penting menang, membuktikan diri, lalu pulang membawa cerita.
Seorang cowok maju ke tengah jalan. Dia mengangkat topinya tinggi-tinggi sebagai aba-aba.
Satu...
Dua...
Topi itu jatuh ke aspal.
WUSSSHH!
Dua motor melesat membelah gelap. Raungan knalpot memekakkan telinga, meninggalkan bau asap bercampur oli samping yang pekat. Gue refleks maju selangkah, mengikuti arah kedua motor itu menghilang di ujung jalan.
Dan seperti biasa, bagian inilah yang paling gue benci.
Bukan saat Andi bersiap di garis start. Bukan juga ketika dia memacu motornya seolah jalanan itu milik keluarganya. Tapi saat dia sudah melesat jauh dan gue nggak punya pilihan selain menunggu.
Bagi Andi, balapan mungkin cuma kesenangan, ajang pembuktian, atau cara menghabiskan malam Minggu. Tapi buat gue, setiap kali melihatnya meninggalkan garis start, selalu ada satu pertanyaan yang ikut muncul di kepala.
Bagaimana kalau suatu malam dia nggak kembali?
Tangan gue mengepal. Pandangan gue terpaku pada jalan yang kini kembali kosong.
Gue buru-buru menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu. Andi sudah terbiasa. Dia bukan anak kemarin sore yang baru pertama kali turun ke jalan. Tapi terbiasa bukan berarti aman. Dan gue benci kenyataan bahwa sebagai sahabatnya, ada hal-hal yang memang nggak bisa gue kendalikan.
Gue bisa mengomel, melarang, bahkan ikut datang ke tempat seperti ini hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Tapi pada akhirnya, keputusan untuk memacu motor tetap ada di tangannya.
Beberapa detik kemudian, riuh penonton terdengar dari kejauhan.
"Merah masuk! Merah masuk!"
Napas yang sejak tadi gue tahan akhirnya terlepas. Andi menang.
Bahu gue yang sempat menegang perlahan mengendur.
Nggak lama kemudian, Ninja merah itu meluncur kembali ke titik awal. Anak-anak bengkel menyambutnya dengan sorak-sorai. Beberapa bahkan berlarian mengikuti dari belakang.
Begitu melintas di depan gue, Andi menyeringai lebar. Gue mengangkat kedua jempol tinggi-tinggi. Dia membalas dengan geberan halus, lalu tertawa penuh kemenangan.
Seolah nggak ada yang perlu dikhawatirkan.
Seolah beberapa detik sebelumnya gue nggak sempat membayangkan kemungkinan terburuk.
BZZZ... BZZZ...
Ponsel di saku celana gue bergetar. Sebuah pesan dari Ricky, teman satu band gue.
Ricky:
Lo di mana?
Gue menepi dari kerumunan anak bengkel, lalu meneleponnya.
"Di Taman Mini, lagi lihat Andi balap, Rik. Kenapa?"
"Malam Minggu anak muda... kegiatannya ugal-ugalan terus," balas Ricky sambil tertawa kecil.
"Gabut gue. Tadi sore baru kelar event."
"Ya udah, abis dari Taman Mini lo ke rumah gue, ya. Gue lagi nongkrong di gazebo sama temen-temen kantor. Ajak si Andi sekalian."
"Oke, nanti gue mampir."
Gue mengakhiri panggilan, lalu menghampiri Andi yang masih dikerumuni anak-anak bengkel dengan wajah sumringah.
"Di. Gue mau ke rumah Ricky. Lo ikut apa enggak?"
Matanya langsung berbinar.
"Ke rumah bos muda? Mau, mau! Pasti ada yang seger-seger di sono."
"Otak lo isinya begituan mulu."
"Namanya juga usaha, Nyet!"
Andi dan Ricky memang lumayan akrab. Mereka pertama kali kenal waktu band gue tampil di acara pensi SMA mantan pacarnya Andi. Sejak saat itu, Andi hampir nggak pernah absen setiap ada kumpul-kumpul di rumah Ricky.
Buat kami, nongkrong di sana sudah seperti rutinitas. Ada makanan, obrolan nggak jelas, candaan receh, dan waktu yang berjalan tanpa terasa sampai dini hari.
Malam itu, gue mengira semuanya akan berlangsung seperti biasa. Berkumpul, tertawa, membicarakan hal-hal nggak penting, lalu pulang ketika malam hampir berganti pagi.
Gue belum tahu bahwa ada masa-masa yang baru terasa berharga setelah semuanya menjadi kenangan. Dan terkadang, peristiwa yang paling sulit dilupakan justru berawal dari malam yang kita anggap biasa saja.
Ninja merah Andi kami titipkan di bengkel Bang Bule, nggak jauh dari arena balapan. Malam itu kami pulang menggunakan motor matic milik gue, dengan Andi yang memegang kemudi. Katanya, sisa adrenalin setelah balapan membuatnya nggak bisa duduk manis sebagai penumpang.