Detik Tentang Kita

Mirza
Chapter #2

BAB 2 - Orang Asing di Balik Jendela

Gue membaringkan Andi di sofa panjang ruang tengah. Ricky sudah lebih dulu masuk dan menunjuk sofa itu.

"Taruh situ aja, Za."

Andi langsung memeluk bantal sofa, lalu memejamkan mata lagi seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Ricky meletakkan segelas air putih di meja dekatnya.

"Biarin dulu. Kalau udah mendingan, baru bangunin."

Gue berdiri di samping sofa sambil berkacak pinggang.

"Enak banget hidup lo. Bikin masalah, terus tidur."

Andi cuma mendengkur pelan.

Mulut gue kering, badan pegal, dan kepala masih berdenyut. Rambut ikal gue pasti sudah berantakan setelah semalaman tidur di gazebo. Lengkap sudah penderitaan pagi ini.

"Gue mau cuci muka dulu."

"Ke atas aja. Kamar mandi dekat kamar gue masih bisa dipake," jawab Ricky. "Lo masih inget jalannya, kan?"

"Harusnya."

"Harusnya gimana?"

"Siapa tahu lo renovasi diam-diam."

Ricky tertawa kecil, sementara gue mulai menaiki tangga menuju lantai atas.

Suasana di sana jauh lebih tenang. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela besar, jatuh membentuk sudut terang di atas lantai yang masih terasa dingin saat diinjak. Dari bawah, suara Ricky yang sedang mengobrol dengan Tasya terdengar samar.

Setelah membasuh muka beberapa kali, gue menatap pantulan diri sendiri di cermin.

Rambut ikal berantakan, mata sembap, wajah kusut.

Persis orang yang baru kalah bertempur dengan kehidupan.

"Cakep banget, Za," gumam gue. "Calon menantu idaman."

Gue mengusap wajah sekali lagi, kemudian mematikan keran.

Niat gue sederhana: turun, mengambil barang, lalu pulang sebelum ada kejadian memalukan lainnya.

Tapi waktu keluar dari kamar mandi, langkah gue mendadak terhenti.

Cewek berambut pendek yang tadi gue lihat di teras sedang berdiri di balkon dekat kamar Ricky. Dia menghadap halaman dengan satu tangan bertumpu pada pagar, sementara tangan lainnya memegang segelas minuman. Angin pagi sesekali menggerakkan ujung rambutnya.

Gue sempat berpikir untuk langsung lewat saja. Toh, gue juga belum mengenalnya.

Tapi sebelum sempat melangkah, dia menoleh.

Pandangan kami bertemu.

Gue mengangguk kecil. Dia membalas dengan anggukan serupa.

Canggung.

Bukan karena ada sesuatu yang istimewa. Gue cuma nggak tahu harus melakukan apa setelah dua orang asing saling mengangguk tanpa punya bahan percakapan.

Ya ampun, Za. Cuma ngangguk doang.

Akhirnya gue memutuskan menyapa lebih dulu.

"Pagi."

"Pagi."

Satu kata, satu balasan.

Setelah itu, hening kembali mengisi jarak di antara kami.

Gue sudah berniat melanjutkan langkah ketika dia tiba-tiba membuka percakapan.

"Lo Riza, kan?"

Gue sedikit menoleh.

"Iya. Kok tahu?"

"Tadi Tasya manggil nama lo."

Tatapannya singkat, seperti seseorang yang sedang mencocokkan wajah dengan nama yang sudah lebih dulu didengarnya.

Gue terlalu pusing untuk memikirkan hal itu lebih jauh.

"Oh. Iya, bener." Gue menggaruk belakang kepala. "Lo sepupunya Ricky, ya?"

"Iya."

"Yang dulu katanya mau diajak jadi drummer band kami?"

Dia tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Wah, Ricky masih cerita soal itu?"

"Semalem. Tapi waktu itu gue yang nolak."

"Kenapa?"

Pertanyaannya sebenarnya sederhana. Tapi entah kenapa, gue malah kembali menggaruk belakang kepala.

"Dulu gue mikirnya bakal ribet kalau ada personel cewek di antara anak-anak band gue."

Dia mengangkat alis, kemudian tersenyum geli.

"Sekarang masih mikir begitu?"

Pertanyaan bagus.

Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa dulu gue bisa punya pikiran sekonyol itu, ya?

"Kayaknya enggak," jawab gue akhirnya. "Dulu gue aja yang kebanyakan mikir."

Dia tertawa lagi.

Bukan tawa keras atau dibuat-buat. Hanya tawa singkat yang entah bagaimana membuat suasana terasa sedikit lebih santai.

"Berarti sekarang udah boleh dong kalau diajak gabung?"

Gue mengangkat bahu.

"Kalau lo masih tertarik main musik, kenapa nggak?"

Dia ikut mengangkat bahu.

"Lihat nanti aja."

Gue mengangguk.

Obrolan kami kembali berhenti. Gue nggak tahu harus menanyakan apa lagi, sementara dia juga kelihatannya nggak merasa perlu buru-buru mengisi keheningan.

Hebat, Riza.

Biasanya gue bisa ngoceh berjam-jam kalau sedang bersama Andi. Tapi sekarang, ngobrol dengan orang baru saja rasanya seperti sedang menghadapi ujian SIM C.

Gue mencoba mencari topik lain.

"Btw, gue Riza."

Baru setelah mengucapkannya, gue sadar bahwa dia sudah menyebut nama gue dua kali.

Dia tersenyum kecil.

"Udah."

Gue terkekeh canggung.

"Oh, iya juga."

"Ina."

"Ina," ulang gue, sekedar memastikan.

"Iya."

"Salam kenal."

"Salam kenal juga."

Lihat selengkapnya