Detik Tentang Kita

Mirza
Chapter #3

BAB 3 - New Member

Gue melangkah ke depan dengan berat hati, lalu berdiri di samping papan tulis yang kini memuat nama gue sebagai ketua. Tepuk tangan dan sorak para pemuda memenuhi teras rumah Pak RT.

Rasanya masih agak sulit dipercaya. Beberapa menit lalu gue cuma salah satu peserta rapat yang berharap bisa pulang secepatnya. Sekarang, semua mata justru tertuju kepada gue.

Sebagai ketua baru, gue diwajibkan memberikan sambutan singkat.

Gue berdeham, melempar pandangan ke depan, lalu berhenti tepat pada Andi yang masih menyeringai puas di barisan depan.

"Makasih buat kepercayaan teman-teman," buka gue. "Tapi jujur, gue nggak bakal sanggup jalanin ini sendiri kalau nggak ada orang yang gesit di lapangan."

Gue sengaja berhenti sebentar, membiarkan Andi menikmati senyum tengilnya.

"Karena yang nyalonin gue tadi kelihatannya begitu bersemangat, gue mau usul secara resmi ke forum... Andi sebagai wakil ketua gue."

Teras langsung meledak dalam tawa dan tepuk tangan.

Senyum Andi lenyap seketika. Mukanya berubah panik, seolah baru menyadari bahwa ulahnya sendiri ternyata bisa memakan korban. Dan kali ini, korbannya adalah dirinya.

"Lah! Kok gue?!"

"Lho, bukannya lo yang paling yakin gue cocok jadi ketua?" balas gue. "Masa sekarang malah mundur?"

Sorakan warga kembali pecah. Beberapa orang bahkan meneriakkan nama Andi, membuatnya nggak punya banyak pilihan selain menerima usulan itu dengan wajah pasrah.

Dari tempat gue berdiri, dia sempat mengumpat tanpa suara ke arah gue.

Gue membalasnya dengan senyum tulus malam itu.

Rasain. Sekali-sekali jadi korban juga.

Setidaknya, malam itu gue nggak sendirian menanggung akibat dari keisengan orang lain.

Setelah rapat umum selesai, sebagian besar warga mulai meninggalkan pelataran. Sementara itu, orang-orang yang masuk dalam kepengurusan inti diminta bertahan untuk menyusun struktur panitia dan membagi tugas.

Di situlah gue baru menyadari bahwa jabatan ketua ternyata bukan cuma soal berdiri di depan dan menerima ucapan selamat.

"Za, perlengkapan sama konsumsi siapa yang pegang?" tanya seorang pemuda.

"Bentar, kita susun dulu semuanya," jawab gue sambil memperhatikan lembar catatan. "Kalau langsung dibagi sekarang, takutnya tumpang tindih."

Gue berusaha terdengar yakin, meskipun dalam hati mulai menghitung berapa banyak waktu luang yang mungkin bakal hilang selama beberapa minggu ke depan.

Baru juga menjabat, pekerjaan sudah antre.

Andi, yang duduk di sebelah gue, tiba-tiba menyenggol lengan.

"Za."

Gue menoleh.

"Dini masukin sekretariat aja, gimana?"

Gue kembali menatap kertas.

"Kenapa harus sekretariat?"

"Biar gampang koordinasi sama ketuanya."

Gue meliriknya tajam.

"Koordinasi panitia, kan?"

"Ya emang koordinasi apaan lagi?" Dia memasang wajah polos yang sama sekali nggak meyakinkan. "Pikiran lo ke mana-mana aja."

"Halah."

Andi terkekeh, lalu kembali menghadap anggota lainnya.

Akhirnya, nama Dini masuk ke dalam seksi sekretariat setelah beberapa anggota menyetujui usulan tersebut.

Gue berusaha tetap profesional ketika menuliskan namanya di daftar kepanitiaan. Tapi entah kenapa, tulisan gue mendadak lebih berantakan dari biasanya, padahal pulpen yang digunakan masih sama.

Ini cuma urusan panitia, Za. Biasa aja.

Setelah pembagian tugas awal selesai, kami diberi waktu untuk beristirahat.

Beberapa orang mengambil teh hangat yang disediakan di atas meja. Sebagian lainnya masih berkumpul sambil membicarakan persiapan lomba.

Gue sedang meniup permukaan teh ketika seseorang berhenti di dekat kursi.

"Riza, ya?"

Dini berdiri di depan gue dengan senyum ramah. Kacamata tipisnya bertengger di hidung, sementara lesung pipinya kembali terlihat ketika dia tersenyum.

"Iya," jawab gue, sedikit terlalu cepat. "Eh, iya. Kenapa, Din?"

Dini tertawa kecil.

"Nggak kenapa-kenapa. Mau ngucapin selamat aja. Semoga kamu kuat jadi ketua panitia."

"Doain aja. Baru beberapa menit, udah berasa nambah usia."

"Separah itu?"

"Belum tahu. Ini baru tahap perkenalan sama penderitaan."

Dini terkekeh.

Kali ini gue nggak langsung kehilangan kata-kata. Setidaknya, obrolan kami bisa bertahan lebih dari dua kalimat tanpa bantuan Andi.

Ada hal sederhana yang terasa menyenangkan dari percakapan itu. Gue nggak perlu memikirkan terlalu banyak hal untuk sekadar membalas ucapannya. Semuanya mengalir begitu saja, meskipun sesekali gue masih harus mengingatkan diri sendiri supaya nggak terlihat terlalu gugup.

"Lo bagian sekretariat, ya?" tanya gue.

"Iya. Kebetulan aku lumayan terbiasa sama urusan catat-mencatat." Dia mengangkat bahu. "Di tempat kerja juga harus teliti."

"Kerja di mana?"

"Apotek daerah Lebak Bulus. Aku asisten apoteker di sana."

"Lumayan jauh juga dari sini."

"Lumayan. Tiap hari naik angkutan umum." Dini mengaduk tehnya pelan. "Kalau lagi ramai, pulang-pergi aja bisa bikin capek sendiri."

"Pantesan lo bilang semoga gue kuat. Ternyata lo udah punya pengalaman bertahan hidup duluan."

Dini tertawa lagi.

"Beda. Aku cuma harus datang tepat waktu. Kalau kamu, kayaknya bakal menghadapi banyak orang yang suka kasih ide dadakan."

Gue melirik Andi yang sedang asyik ngobrol dengan beberapa anggota lain.

"Termasuk wakil ketua gue sendiri."

Dini mengikuti arah pandangan gue, lalu tersenyum seolah memahami maksud gue.

"Kayaknya kalian udah temenan lama, ya?"

"Sepertinya."

"Lho, kok?"

"Karena dia tahu terlalu banyak aib gue."

Dini tertawa sampai lesung pipinya terlihat jelas.

Beberapa menit itu terasa ringan. Nggak ada pertanyaan aneh atau usaha sok keren. Gue mulai merasa bahwa mengobrol dengan Dini mungkin nggak sesulit yang gue bayangkan.

Sampai seseorang menarik kursi kosong di dekat kami.

"Wah, lagi bahas apa nih? Serius amat."

Rudy.

Salah satu anak Karang Taruna yang gampang akrab dengan siapa saja, atau setidaknya selalu merasa dirinya akrab dengan semua orang.

Dia duduk sambil membawa segelas teh, lalu melirik Dini dengan senyum percaya diri yang dia miliki.

"Lagi kenalan sama ketua baru," jawab Dini sopan.

"Oh, pantesan."

Rudy mengangguk beberapa kali, seolah baru memahami sesuatu yang penting.

"Kalau gitu gue juga harus kenalan lebih dekat sama sekretariat, dong. Biar nanti kalau butuh tanda tangan, prosesnya bisa dipercepat."

Dini tersenyum kecil.

"Kalau urusannya panitia, ya tinggal ikutin prosedur aja."

"Waduh, tegas. Belum mulai kerja udah ditolak mentah-mentah."

Anak-anak Karang Taruna yang duduk di ujung teras langsung menyahut.

"Anjay, Rud! Baru mulai udah cari celah!"

"Gercep banget, kayak angkot bogor!"

Rudy tertawa bersama mereka. Dia sama sekali nggak terlihat tersinggung. Memang begitulah caranya masuk ke dalam obrolan, bahkan ketika candaan yang dilontarkannya nggak selalu lucu.

Gue ikut tersenyum tipis sambil menyesap teh.

Sebenarnya nggak ada yang salah dari percakapan itu. Rudy bercanda, Dini menanggapi dengan sopan, dan semua orang menikmati suasana.

Apaan sih, Za? Baru ngobrol beberapa menit juga.

Gue meletakkan gelas, lalu ikut masuk ke dalam percakapan.

"Rud, kalau mau jalur cepat, bantuin dulu beresin daftar anggota. Dari tadi lo cuma duduk sambil minum doang."

Rudy menoleh dan tertawa.

"Siap, Ketua! Baru menjabat udah galak."

"Biar jabatan gue ada gunanya di mata anggota."

Lihat selengkapnya