Jumat malam selepas magrib, gue membonceng Andi menuju studio musik di Bintaro.
Ninja merah kesayangannya masih opname di bengkel Bang Bule untuk mengganti kampas kopling. Jadi, untuk sementara, dia harus rela menumpang motor matic butut gue.
Sepanjang perjalanan, mulutnya nggak berhenti bergerak. Dari memamerkan cengkok vokal sampai membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, semuanya diceritakan dengan penuh percaya diri. Sesekali dia bahkan sengaja menyanyikan nada-nada tinggi sampai beberapa pengendara lain menoleh heran.
"Nyet, bisa nggak lo diem sebentar aja?" omel gue sambil menahan tawa. "Kuping gue bisa budek sebelum sampe studio."
"Justru lo harus bersyukur, Za! Ini kesempatan langka dengerin suara emas calon vokalis legendaris!"
Baru mau audisi saja tingkahnya sudah seperti artis papan atas.
Gue menggeleng sambil tersenyum. Entah bagaimana caranya Andi selalu berhasil menemukan alasan untuk menjadi pusat perhatian, bahkan ketika nggak ada seorang pun yang memintanya.
Begitu sampai di pelataran studio, gue melihat Hari dan Ricky sudah menunggu di teras sambil menyesap kopi hitam.
"Ini dia calon vokalis legendaris kalian tiba!" seru Andi begitu turun dari motor.
Hari menyipitkan mata.
"Jaga kelakuan lo di dalem, Di. Jangan bikin ribet."
"Tenang, Har. Profesionalisme gue nggak perlu diragukan."
"Justru itu yang gue ragukan," sahut Hari datar.
Ricky terkekeh. Gue menepuk bahu Andi dan menyuruhnya masuk sebelum mulutnya semakin sulit dikendalikan.
Begitu pintu kedap suara tertutup, suasana di luar langsung berganti dengan aroma khas ruang latihan. Udara dingin dari AC bercampur bau busa peredam, sementara beberapa instrumen tersusun di tempat masing-masing.
Gue mulai menyetem senar gitar. Hari bersiap di balik drum, sedangkan Ricky menyetting ampli bass. Di tengah ruangan, Andi berdiri sambil memegang mikrofon dengan gaya sok keren yang membuat gue dan Ricky ingin menimpuknya pakai ampli.
Tapi begitu instrumen mulai dimainkan dan lagu pertama mengalun, suasana studio berubah.
Suara Andi terdengar lantang, dengan karakter serak-serak basah yang ternyata cocok dengan warna musik funk-rock kami. Dia mengikuti ritme dengan tepat, menyesuaikan cengkoknya dengan permainan gitar dan bass.
Nada-nada tinggi yang biasanya membuat beberapa vokalis pengganti kewalahan justru bisa dia libas dengan santai.
Pembawaannya penuh percaya diri. Berdiri di tengah ruangan dengan mikrofon di tangan, Andi terlihat seolah sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari band ini.
Gue melirik Hari.
Drummer yang sejak awal paling meragukan Andi itu sekarang justru manggut-manggut mengikuti beat.
Satu lagu selesai, disusul lagu kedua, lalu ketiga. Andi tetap tampil dengan energi yang sama sampai nada terakhir benar-benar menghilang dari pengeras suara.
Dia menurunkan mikrofon dan menatap kami dengan senyum lebar, seolah sudah tahu bagaimana hasil audisinya.
Kami kemudian keluar ke teras untuk beristirahat.
"Gimana, Ri? Nggak malu-maluin, kan, pilihan gue?" bisik gue sambil menyalakan rokok.
Hari menghela napas sebelum meneguk teh botolnya.
"Gue nggak nyangka suara anak kampret bisa sebagus itu. Karakternya masuk buat format baru kita."
Gue tersenyum.
"Tuh kan. Makanya jangan keburu nge-judge orang."
"Jangan seneng dulu. Sekali ini doang gue akuin pilihan lo bener."
Ricky menepuk bahu Andi.
"Oke, Di. Lo resmi pegang mic The Funkies buat pensi kampus Tasya."
Andi langsung menyisir rambutnya ke belakang menggunakan telapak tangan. Senyum tengilnya kembali muncul.
"Tuh kan, apa gue bilang! Dari awal juga lo pada yang butuh gue, bukan gue yang butuh lo pada!"
"Idih, songongnya kumat!" omel Hari sambil pura-pura melempar bungkus rokok kosong.
Andi menghindar sambil tertawa semakin keras.
Dikasih kesempatan sedikit saja, tingkahnya langsung selangit.
Tapi di balik semua kelakuannya, gue ikut senang melihat dia berhasil melewati audisi. Setidaknya, sekarang The Funkies punya vokalis yang bisa diandalkan untuk tampil di panggung berikutnya.
Kadang, kemampuan seseorang memang nggak selalu terlihat dari bagaimana dia menjalani kesehariannya. Ada sisi lain yang baru muncul ketika dia diberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukannya.
Dan malam itu, Andi berhasil membuktikannya.
Malam semakin larut ketika gue dan Andi akhirnya pamit.
Seperti saat berangkat, gue kembali mengantarnya pulang menggunakan motor. Jalanan dari Bintaro menuju kampung kami mulai sepi. Sesekali hanya ada kendaraan yang melintas di bawah cahaya lampu jalan.
Sampai di depan pagar rumah Andi, gue mematikan mesin dan menyandarkan motor di tepi jalan. Kami masih berdiri sebentar sambil membicarakan latihan tadi.
Nggak lama kemudian, suara deru motor mendekat dan berhenti nggak jauh dari tempat kami berdiri.
Sorot lampunya menyapu pagar rumah di sepanjang jalan.
Seorang cewek turun dari jok belakang, merapikan tas selempangnya, lalu menyerahkan helm kepada pengendara yang mengantarnya.
Dini.
Dia baru pulang dari shift sore di apotek. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi dia masih sempat merapikan rambut sebelum berpamitan. Cowok yang mengantarnya mengangguk sopan, menerima helm, lalu kembali menyalakan motornya.
Sebelum Dini sempat masuk ke halaman rumah, Andi yang berdiri di sebelah gue sudah lebih dulu bersuara.
"Hallo, cantik! Baru pulang kerja, ya?"
Dia melambaikan tangan dengan heboh, seolah sedang menyambut artis yang baru turun dari panggung.
Dini dan cowok yang mengantarnya menoleh bersamaan. Cowok itu cuma mengangguk dari kejauhan sebelum melajukan motornya kembali.
Dini membalas lambaian Andi dengan senyum kecil.
Lesung pipinya terlihat samar di bawah cahaya lampu jalan.
Dan sialnya, jantung gue kembali berdegup lebih cepat.
Dia cuma senyum, Riza.
"Eh, Andi... Riza..." sapanya ramah sambil mendekat ke pagar rumah.
Andi langsung menghampirinya dengan langkah cepat. Gue menyusul dari belakang, dengan langkah yang entah kenapa jauh lebih pelan.
"Din, oh iya, jangan lupa sering-sering cek grup WhatsApp, ya. Buat update panitia tujuh belasan, biar nggak ketinggalan info," pesan Andi langsung ke inti.
"Iya, Andi. Nanti aku cek lagi, kok."
Pandangan Andi kemudian beralih ke arah motor yang tadi mengantar Dini. Matanya menyipit jahil.
"Eh, Din, ngomong-ngomong, cowok yang nganterin lo tadi siapa tuh? Pacar baru?"
Dini tertawa kecil sambil menggeleng.
"Bukan, ih. Itu teman kerja di apotek yang kebetulan masuk shift bareng. Pulangnya searah."
Andi menyeringai.
"Wah, mentang-mentang kerja di apotek..."