Malam itu, motor matic gue membelah jalanan yang mulai lengang. Angin menyusup lewat celah jaket, tapi pikiran gue justru terasa semakin penuh.
Senyum Ina di backstage tadi masih berputar di kepala gue. Ditambah rasa bersalah karena meninggalkan rapat panitia tanpa kabar, dua hal itu bergantian memenuhi kepala sampai akhirnya gue tiba di pos warga RT 04.
Suasananya jauh lebih tenang dibandingkan sore tadi. Lampu neon putih menerangi meja kayu panjang yang dipenuhi tumpukan proposal, gelas plastik bekas kopi saset, dan lembaran anggaran.
Gue mematikan mesin motor di tepi jalan, lalu melangkah mendekat.
Di balik meja, Dini masih duduk. Kacamatanya sedikit merosot di pangkal hidung, sementara jemarinya sibuk merapikan berkas proposal lomba.
Andi, Lina, Mita, dan beberapa anak tongkrongan lainnya duduk di bangku panjang di samping meja. Mereka asyik memainkan ponsel sambil sesekali tertawa kecil.
Begitu melihat gue, Andi langsung meletakkan ponselnya dan berdiri.
"Wih, pengusaha muda kita baru nongol!"
Dia merangkul pundak gue dengan gaya khasnya.
Dini ikut mendongak. Tatapannya memperlihatkan campuran lega dan sedikit kesal.
Gue menggaruk tengkuk, lalu menghampiri meja posko dengan langkah canggung.
"Sori, Din. Tadi gue beneran harus bantu anak-anak Cleo beresin sound di Fatmawati. Mendadak banget."
Dini menutup map dokumen dan menatap gue. Lesung pipinya terlihat samar di bawah cahaya lampu posko.
"Iya, nggak apa-apa. Tadi juga udah dibantu anak-anak."
Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Cuma, lain kali kalau mau ninggalin tugas ketua, kabarin dulu ke grup. Kasihan anak-anak nungguin."
"Siap, Din. Janji nggak diulang."
Kabarin dulu.
Dua kata sederhana yang rasanya pernah gue dengar dari orang lain, dengan nada yang jauh lebih lelah.
Teguran sesederhana itu entah kenapa membuat nyali gue ciut sekaligus salah tingkah di hadapan cewek berkacamata tersebut.
Andi maju selangkah sebelum gue sempat mencairkan suasana.
"Udah, Din. Jangan dimarahin ketua kita ini."
Dia menyeringai sambil menepuk bahu gue.
"Namanya juga wakil ketua, tugasnya emang gantiin ketua kalau lagi berhalangan. Lagian dari awal dicalonin, Riza udah bilang kerjaannya di dunia event. Anak panggung, soundman. Jadwalnya mana bisa disamain sama pegawai kantoran yang jam kerjanya pasti!"
Gue melirik Andi, sedikit terkejut sekaligus merasa tertolong.
Cara dia membela gue memang terdengar seperti sedang berkampanye, tapi malam ini setidaknya ada seseorang yang berdiri di pihak gue.
Dini hanya menghela napas pelan sebelum kembali merapikan berkas.
Belum sempat suasana mencair, deru motor sport berfairing memasuki pelataran posko. Sorot lampu utamanya menyapu halaman sebelum motor itu berhenti tidak jauh dari tempat kami.
Rudy.
Anak kadal itu melepas helm full-face, kemudian turun dengan gaya sok santai sambil menenteng dua kantong plastik berisi es teh manis dan gorengan.
"Nih, buat nemenin anak-anak lembur benerin proposal," katanya sambil meletakkan bawaan di dekat meja Dini.
Setelah itu, dia melirik gue dengan senyum miring.
"Wah, ketua panitia akhirnya balik juga. Kirain udah pindah haluan jadi soundman tetap di Jakarta Selatan."
Beberapa anak tongkrongan saling melirik, seolah mulai menangkap sindiran yang baru saja dilontarkannya.
Gue memilih nggak menanggapi.
Gue sudah cukup merepotkan anak-anak panitia sore tadi. Sekarang setidaknya gue bisa ikut membereskan sisanya, apalagi Dini masih sibuk di balik meja.
Gue menarik kursi plastik dan duduk di dekatnya.
"Udah, Din. Biar gue aja yang ngerjain sisanya bareng anak-anak."
Dini menggeleng.
"Nggak apa-apa, kok. Tanggung, dikit lagi beres."
"Besok masuk shift apa?"
"Pagi."
"Nanti lo kecapekan."
Gue melirik tumpukan berkas di hadapannya.
"Takutnya malah kesiangan."
Dini menatap gue dari balik kacamatanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis.
Dia membetulkan kacamatanya menggunakan telunjuk kanan.
"Nggak apa-apa, kok," jawabnya lembut.
Gue memperhatikan wajahnya yang terlihat lelah, tetapi masih berusaha mempertahankan senyum.
Ada sesuatu yang membuat gue nggak tega membiarkannya pulang larut setelah seharian bekerja.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, mulut gue sudah lebih dulu bergerak.
"Ya udah, besok gue anterin lo ke tempat kerja, deh."
Begitu kalimat itu keluar, gue baru menyadari apa yang baru saja gue tawarkan.
Anjir. Mulut gue kenapa, sih?
Posko mendadak hening.
Mita dan Lina saling pandang sambil menahan senyum. Andi cuma senyum lebar, menggelengkan kepala seolah nggak habis pikir melihat gue yang biasanya banyak omong justru keceplosan di depan semua orang.
Sementara itu, senyum Rudy perlahan menghilang. Tangannya sempat terhenti ketika hendak mengeluarkan es teh dari kantong plastik. Dia melirik gue sekilas sebelum pura-pura sibuk membagikan minuman.
Gue merutuki lidah sendiri dan berharap Dini nggak langsung menolak tawaran tersebut.
Tapi Dini nggak segera menjawab.
Dia menatap gue lekat-lekat. Ada binar tipis di matanya sebelum akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibirnya.
"Emang... nggak ngerepotin?"
"Ya... ya nggak lah! Besok gue libur kerja, kok," jawab gue cepat.
Gue berusaha menyelamatkan muka sekaligus menenangkan jantung yang mendadak menggila.
Lina menyikut lengan Mita sambil terkikik. Kemudian dia melempar sindiran dengan nada yang sengaja dikeraskan.
"Wah, asyik banget! Kalau gitu besok aku dianterin juga dong? Aku juga masuk shift pagi nih!"
Gue semakin salah tingkah.