Beberapa hari setelah mengantar Dini ke tempat kerja, hidup ini bergerak seperti biasa.
Pekerjaan datang silih berganti, latihan band tetap berlangsung, dan sesekali gue masih menghabiskan malam bersama Andi dan teman-teman lainnya.
Hanya satu hal yang belum sepenuhnya kembali seperti biasa.
Rumah berpagar hitam itu.
Sesekali, bayangannya masih muncul di kepala tanpa diundang. Seolah ada bagian dari masa lalu yang belum benar-benar selesai, meskipun gue sudah berusaha melanjutkan hidup.
Mungkin gue belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalu gue.
Cukup lama gue berdebat dengan gengsi sendiri, malam itu gue akhirnya membuka WhatsApp dan memberanikan diri mengirim pesan kepada Dini.
Riza:
Din, udah sampai rumah? Tadi pulangnya naik apa?
Gue menatap layar ponsel sambil menunggu balasan. Beberapa menit terasa lebih lama dari biasanya.
Sampai akhirnya sebuah notifikasi muncul.
Dini membalas pesan gue. Dia bercerita tentang angkot yang penuh saat pulang kerja, kemudian menanyakan kapan jadwal rapat panitia berikutnya.
Obrolan kami memang singkat. Nggak ada percakapan panjang atau kata-kata istimewa. Tapi entah bagaimana, hal sederhana seperti itu sudah cukup membuat gue tersenyum sendiri di kamar.
Gila. Baru ngobrol sebentar aja udah senang begini.
Kamis sore, latihan rutin The Funkies kembali membawa gue ke studio musik.
Sejak resmi menjadi vokalis tetap, Andi semakin percaya diri. Atau lebih tepatnya, semakin songong.
Suara serak-seraknya mulai menjadi warna baru dalam lagu-lagu funk-rock kami. Sementara gayanya di depan mikrofon seolah sudah sepuluh tahun menjadi frontman.
Selesai membawakan lagu terakhir, kami beristirahat di ruang tengah sambil meneguk air mineral.
Andi menyenggol lengan gue.
Senyum tengilnya langsung membuat gue curiga.
"Eh, Cing. Ngomong-ngomong soal tanggal, lo inget nggak sebentar lagi hari apa?" bisiknya sambil melirik pintu, seolah sedang merencanakan kejahatan tingkat tinggi.
"Tanggal tua?"
"Bukan, bego!"
Andi menepuk pahanya sendiri.
"Tanggal 2 Agustus. Dini ultah!"
Gue berhenti meneguk air.
"Oh, ya?"
Sebisa mungkin gue berusaha terdengar biasa saja, padahal informasi itu langsung menarik perhatian gue.
"Pas banget, kan? Kita jadi panitia 17-an bareng. Gimana kalau bikin kejutan kecil-kecilan?"
"Kenapa jadi gue yang ikut-ikutan?"
"Ya karena lo juga deket sama dia, Cing!" jawabnya tanpa dosa. "Tenang. Urusan ide biar gue yang desain. Tugas lo bantu eksekusi sama keluar modal dikit lah."
Gue menatapnya datar.
"Enak banget pembagian tugasnya. Ide lo, tenaga gue, duit gue."
"Namanya juga kerja sama tim, ya gak?"
Gue menahan senyum.
Belum sempat gue menjawab, tawa pecah dari sudut ruangan. Hari, drummer paling lurus di antara kami, kembali menjadi sasaran keusilan Andi.
Hari memang berbeda dari kami. Dia nggak merokok, nggak minum alkohol, dan lebih sering pusing memikirkan kuliah daripada mencari masalah.
"Lo tuh ya, Har, hidup lurus banget kayak mistar gawang!" Andi menoyor kepalanya. "Sekali-sekali nyebat kek, atau minum es teh manis campur Autan biar hidup lo ada tantangannya sedikit!"
Hari menghela napas sambil merapikan tas stik drum.
"Biarin napa, sih. Hidup gue udah pusing mikirin revisi skripsi. Jangan ditambah gara-gara kelakuan lo pada."
"Makanya gabung sama kita-kita orang otaknya encer kayak si Riza!"
"Gak jelas, lo!" protes gue.
Ricky ikut tertawa.
Pemandangan seperti itu sudah terlalu biasa buat kami. Ada saja kelakuan Andi yang berhasil mengubah suasana serius menjadi bahan tertawaan.
Setelah sesi latihan selesai, Hari dan Andi keluar lebih dulu. Dari balik pintu studio, suara mereka masih terdengar ribut memperdebatkan motor siapa yang lebih dulu mengalami ban bocor.
Gue sedang menggulung kabel jack dan baru saja berdiri ketika Ricky menahan bahu gue.
"Sebentar, Za. Ngobrol dulu."
Gue menoleh.
"Kenapa, Rik? Sound tadi ada yang salah?"
"Bukan soal sound."
Ricky menyandarkan bass-nya ke stand, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Nada bicaranya berubah serius, membuat gue ikut menghentikan candaan.
"Gue denger tadi Andi ngomongin ulang tahun Dini. Dan kata Andi belakangan lo mulai dekat sama dia."
"Oh, Dini?"
Ricky mengangguk.
"Gue seneng kalau lo mulai mau buka hati lagi. Dini kayaknya anak baik kalo dari cerita Andi. Tapi gue pengin lo mikirin satu hal dulu."
"Apa?"
"Lo masih inget Anggie, kan?"
Nama itu membuat gue terdiam.
Ricky pernah satu kampus dengan Anggie. Dia juga salah satu orang yang menyaksikan bagaimana hubungan kami berjalan, termasuk keadaan gue setelah semuanya berakhir.
"Gue tahu seberapa hancurnya lo waktu dia pergi," lanjutnya. "Gue juga tahu lo nyesel sama kebiasaan lo dulu. Nongkrong sampai pagi, mabuk-mabukan, sering nggak nepatin janji. Lo sendiri yang pernah cerita."
Gue pura-pura merapikan tali tas yang sebenarnya sudah rapi.