Tanggal 2 Agustus 2015, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Sejak siang, perasaan gue nggak pernah benar-benar tenang. Jantung terasa lebih cepat berdegup, setiap kali membayangkan apa yang bakal terjadi sore nanti. Padahal, ini cuma kejutan ulang tahun kecil-kecilan di pos warga, bukan acara melamar anak perawan orang di depan umum.
Tapi buat gue yang biasanya cuma santai dan hobi leha-leha, momen ini terasa lebih menegangkan daripada menangani sound system di acara besar.
Setidaknya, kalau urusan suara, gue tahu apa yang harus dilakukan. Cari sumber masalahnya, atur ulang, lalu pastikan semuanya berjalan dengan baik. Sayangnya, nggak ada tombol mute buat rasa gugup.
Sebelum ke pos RT, gue mampir ke sebuah toko kue kecil. Sesuai rencana, gue memesan satu kue cokelat berukuran kecil dengan lilin merah di atasnya. Sebelum berangkat, gue memeriksa kotaknya sekali lagi.
Jangan sampai penyok. Jangan sampai lilinnya patah. Dan yang paling penting, jangan sampai gue sendiri yang bikin semuanya berantakan.
Sepanjang perjalanan menuju pos warga, gue terus mengulang skenario di kepala. Harusnya sederhana. Tunggu rapat selesai, minta Dini membuka map merah, lalu berikan kejutan.
Sederhana, kata Andi.
Kalau rencana itu datang dari orang lain, mungkin gue bisa percaya. Tapi ini ide Andi.
Pos RT sore itu cukup ramai. Beberapa warga senior dan anggota Karang Taruna duduk melingkar di atas tikar plastik yang digelar di teras. Di dekat meja kayu, Dini sibuk mencatat poin-poin rapat di laptopnya. Rambutnya diikat rapi, sementara kemeja kasual yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat sederhana dan nyaman.
Gue berhenti sebentar di ambang pintu. Melihat Dini seserius itu mencatat rapat membuat gue tersenyum sendiri.
Begitu masuk dan mengucapkan salam, beberapa anggota Karang Taruna langsung menoleh.
"Wih, datang juga akhirnya si jagoan telat!" celetuk Andi dari sudut ruangan. Seringainya bikin gue ingin melempar botol air mineral ke mukanya.
"Baru juga dateng," balas gue sambil mengambil tempat duduk.
"Namanya juga menyambut tamu kehormatan."
Andi melirik ransel di samping paha gue, lalu mengangkat sebelah alisnya sebagai kode yang menurutnya rahasia. Di mata gue, gerak-geriknya malah terlihat lebih mirip copet yang sedang mengawasi korbannya.
Gue buru-buru memalingkan muka.
Dari seberang tikar, Dini mendongak dan tersenyum kecil.
"Hai, Za."
"Hai, Din."
Cuma dua kata, tapi gue malah sibuk memikirkan apakah jawaban gue tadi terdengar normal.
Dini kembali menunduk ke laptop. Gue berusaha duduk senyaman mungkin, meski ransel di samping paha terasa seperti bom waktu. Di dalamnya ada kue yang harus tetap utuh. Sementara di atas meja, map merah berisi resep dokter imitasi buatan Andi sudah siap menjalankan tugasnya.
Kalau rencana ini gagal, Andi yang harus menjelaskan kepada seluruh warga kenapa ada resep dokter di tengah tumpukan proposal panitia.
Rapat pleno berjalan hampir satu jam. Usulan lomba panjat pinang, pembagian tugas Karang Taruna, sampai anggaran konsumsi dibahas bergantian. Ketua RT sesekali meminta pendapat dari tiap seksi, sementara Dini mencatat setiap keputusan dengan teliti.
Gue berusaha mengikuti pembahasan, sesekali menanggapi persoalan perlengkapan. Namun, sebagian besar perhatian gue justru tertuju pada jam dan map merah di meja. Setiap kali Dini menggeser tumpukan dokumen, jantung gue ikut bereaksi.
Santai, Za. Belum waktunya.
Andi duduk beberapa orang dari gue. Dia terlihat terlalu menikmati keadaan, sesekali melirik sambil menahan senyum seolah sedang menunggu main event pertandingan Tinju.
Gue membalas tatapannya dengan sorot mata yang kurang lebih berarti: kalau lo bikin ulah, selesai lo sama gue!
Sayangnya, ancaman tanpa suara itu sama sekali nggak mempan.
Akhirnya, Ketua RT menutup buku catatannya.
"Oke, kalau dari seksi pendanaan dan sekretariat nggak ada tambahan, rapat pleno sore ini kita cukupkan. Terima kasih semuanya. Nanti hasil catatannya dirapikan lagi, ya, Din."
"Siap, Pak," jawab Dini sambil mulai merapikan buku.
Ini dia.
Andi menyenggol lengan gue, lalu mengangguk berkali-kali dengan ekspresi berlebihan. Gayanya seperti sedang memberi aba-aba kepada orang yang hendak melompat dari commuter line.
Gue menarik napas panjang, bangkit, lalu mendekati meja Dini.
"Ehm... Din?"
Dini mendongak. "Iya, Za? Kenapa?"
Gue kehilangan kata-kata selama sepersekian detik. Aneh. Gue pernah bicara di depan puluhan orang dalam acara musik, memberi instruksi lewat mikrofon saat panggung sedang kacau. Tapi berdiri di depan seorang cewek yang mau gue beri kejutan ulang tahun ternyata jauh lebih sulit.
"Anu... bisa minta tolong sebentar?"
"Boleh. Ada apa?"
Sebelum gue sempat melanjutkan, Andi menyahut dari tempat duduknya dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Itu, Din! Coba cek map merah yang di tumpukan paling bawah! Kata si Riza ada data proposal seksi sekretariat yang perlu dicek ulang sebelum laporannya diserahkan ke Pak RT!"
Gue spontan menoleh.
Bisa nggak sih, lo ngomong pelan sedikit?!
Beberapa orang ikut menoleh ke arah meja Dini. Dia mengernyit sambil mengambil map yang dimaksud.
"Map merah? Yang ini?"
"Iya, itu!" jawab Andi cepat.
Dini membuka map tersebut. Awalnya dia terlihat biasa saja, sibuk mencocokkan lembaran di dalamnya dengan dokumen yang ada di meja. Namun, beberapa detik kemudian, jemarinya berhenti.
Di antara lembaran proposal fotokopian, terselip selembar kertas putih dengan tulisan besar di bagian atasnya.
RESEP DOKTER.
Di bagian bawah terdapat stempel IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) dan paraf dokter palsu yang bentuknya sama sekali nggak meyakinkan.
Dini mengangkat kertas itu, lalu mulai membaca.
RESEP DOKTER
Pasien: Dini, Asisten Apoteker Paling Manis.
Diagnosis: Terlalu sibuk mengurus proposal 17-an sampai hampir lupa menikmati hari ulang tahunnya sendiri.
Aturan pakai:
Wajib tersenyum minimal satu kali setelah membaca resep ini.
Dilarang memarahi dokter yang memberikan resep.
Wajib menerima ucapan ulang tahun dengan hati senang.
Jika pasien masih bingung, segera hubungi dokter yang bertanggung jawab.
Paraf: Dr. Cinta.
Asisten: Andi, Spesialis Kompor meledug dan Pembuat Keributan.
Dini membaca sampai bagian paling bawah. Ruangan mendadak hening selama beberapa detik.
Dia mengangkat wajah, menatap kertas itu sekali lagi, lalu menoleh ke arah Andi.
"Ini apaan, sih?"
Andi langsung pura-pura sibuk merapikan sandal.
"Maaf, saya nggak tahu. Saya cuma warga biasa."
"Di, kamu yang bikin ini, ya?"
"Gimana, ya... tuduhan tanpa bukti itu berbahaya, Din."
Dini menggeleng sambil menahan tawa. Setelah itu, dia melirik ke arah gue yang masih berdiri kaku di samping meja.
"Za, ini maksudnya apa?"
Giliran gue yang harus menjawab.
Gue bisa saja menyalahkan Andi. Bisa juga pura-pura nggak tahu apa-apa, seperti yang baru saja dilakukan manusia paling nggak bertanggung jawab di ruangan ini. Tapi setelah semua yang gue pikirkan selama beberapa hari terakhir, rasanya sayang kalau gue malah bersembunyi di balik alasan.
Gue menarik napas, lalu tersenyum kecil.
"Selamat ulang tahun, Dini."
Gue membuka ransel dan mengeluarkan kotak kue. Setelah membukanya dengan hati-hati dan memastikan lilin merah kecil di atasnya masih utuh, gue menyalakan sumbunya.
Dengan wajah yang mulai terasa panas, gue mengulurkan kue itu kepadanya.
"Nggak seberapa, sih. Cuma kejutan kecil. Semoga lo suka."
Dini terdiam. Matanya bergantian menatap kue di tangan gue dan resep yang masih dipegangnya.
Sesaat, gue nggak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Lalu dia tertawa kecil. Tawa spontan yang membuat ketegangan di bahu gue perlahan mengendur.
"Jadi ini kerjaan kalian berdua?"
"Kalau resep dokternya, itu murni ide orang yang duduk di sana."
"Heii!" protes Andi dari belakang. "Jangan lempar tanggung jawab, Cing! Kita ini tim!"
"Tim apaan? Lo yang bikin resep, gue yang hampir kena serangan jantung."
Beberapa anggota Karang Taruna tertawa. Dini ikut terkekeh sambil menggeleng.
"Ya ampun, kalian ini. Aku kira beneran ada data proposal yang salah. Tadi aku sampai mikir jangan-jangan harus bikin ulang laporan dari awal."
"Maaf, Din," kata gue. Kali ini gue benar-benar merasa bersalah. "Niatnya mau bikin kejutan, bukan bikin lo panik soal laporan."
Dini menatap gue dan tersenyum.
"Nggak apa-apa. Aku cuma kaget."
Dia menerima kue itu, lalu memandangi lilin kecil yang masih menyala.
"Makasih, ya, Za."
Suaranya terdengar sederhana. Gue nggak buru-buru menanggapi dan nggak mencoba menebak apakah senyumnya berarti sesuatu yang lebih jauh.
Yang jelas, dia kelihatan senang.
Untuk sore ini, itu sudah cukup.
"Tiup dulu lilinnya, Din!" seru Andi. "Sebelum meleleh!"
Dini tertawa lagi. Dia menangkupkan kedua tangan sebentar, lalu meniup lilinnya.
Tepuk tangan langsung pecah di teras pos. Andi jadi orang yang paling berisik.
"YOOOOWW! MANTAP, CING! LANJUTKAN KE KUA!"
Dini menutup wajah dengan satu tangan, antara malu campur jijik mungkin.
"Jangan didengerin, Za. Dia memang begitu, ya?"
"Sayangnya, iya. Gue udah coba balikin ke pabrik, tapi nggak bisa diretur."
"WOI!" Andi menunjuk gue. "Gue yang bantu lo dari awal, tahu!"
"Dan gue akan mengingat jasa lo sampai akhir hayat."
"Bagus!"
"Sebagai peringatan buat generasi berikutnya."
Tawa kembali memenuhi teras pos.
Di tengah keramaian itu, gue sempat melihat Rudy yang duduk nggak jauh dari meja. Sejak Dini membuka map merah, dia memperhatikan kami dengan tatapan yang sulit gue artikan.
Akhirnya, dia berdiri dan mendekat dengan senyum tipis.
"Wah, ada acara khusus rupanya," katanya sambil melirik kue di tangan Dini. "Sampai pakai resep dokter segala."
Andi langsung menyambar.
"Namanya juga pelayanan kesehatan, Rud. Kita mengutamakan kesehatan jiwa pasien."
Rudy tertawa kecil, tetapi kemudian matanya beralih kepada gue.
"Hebat juga lo, Za. Niat banget."
"Kebetulan aja. Hari ini ulang tahun Dini."
"Iya, tahu." Rudy mengangguk pelan. "Selamat ulang tahun, Din."
"Makasih, Rud."
Rudy menatap kue itu sekali lagi sebelum akhirnya mundur dan kembali bergabung dengan yang lain.