Dua hari sebelum pensi, gue menyempatkan diri mengajak Dini jalan. Nggak ada rencana mewah. Cuma nonton film, lalu makan mi ayam di pinggir jalan dekat stasiun.
Sepanjang malam, obrolan kami mengalir santai. Kecanggungan yang dulu sempat terasa perlahan luntur, digantikan tawa kecil dan percakapan ringan yang membuat suasana semakin nyaman.
Dini bercerita tentang kesibukannya di apotek, sementara gue menimpali dengan cerita latihan band. Anehnya, gue nggak merasa harus terus mencari bahan obrolan. Bahkan ketika sesekali muncul jeda, suasananya tetap terasa nyaman.
Saat sedang asyik menyantap mi ayam, gue teringat sesuatu.
"Din, lusa gue sama anak-anak ada jadwal manggung," kata gue sambil mengaduk kuah.
Dini mendongak. Matanya menunjukkan rasa penasaran.
"Oh ya? Di mana, Za?"
"Di pensi kampus adiknya Ricky, daerah Jakarta Barat. Sabtu, tanggal 8."
"Oh, pantesan belakangan sibuk latihan terus."
"Iya. Masih ada beberapa bagian yang perlu dirapikan. Kemarin senar gue putus di tengah latihan, Ricky sampai ngomel."
Dini terkekeh.
"Bagus dong, berarti kalian serius."
Dia berhenti makan, lalu tersenyum. Lesung pipinya terlihat jelas di bawah lampu warung yang remang.
"Semangat, ya, Za! Semoga lancar. Jangan sampai senar gitar kamu putus lagi di tengah lagu."
"Eh, kok malah doain begitu?"
"Kan cuma ngingetin. Siapa tahu kejadian."
"Kalau kejadian, gue anggap itu doa buruk."
Dini tertawa lagi.
Dukungannya sederhana. Nggak ada janji muluk atau kata-kata berlebihan. Tapi justru hal-hal kecil seperti itu yang membuat gue semakin ingin memberikan penampilan terbaik.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gue menantikan sesuatu tanpa terus dibayangi rasa takut.
Sabtu, 8 Agustus 2015.
Pagi-pagi gue sudah merapat ke rumah Ricky untuk berangkat bersama anak-anak The Funkies. Setelah memastikan gitar dan perlengkapan lainnya aman, gue berboncengan dengan Andi, sementara Ricky dan Hari menyusul menggunakan motor masing-masing.
Udara pagi masih terasa dingin. Namun, perjalanan sama sekali nggak tenang gara-gara Andi yang nggak berhenti ngoceh dari balik helmnya.
Dan tebak siapa yang dibahas.
Siapa lagi kalau bukan Ina, si sepupu yang dia bilang judes tapi trendy.
"Sumpah, Za, sepupunya Ricky emang cantik," oceh Andi, berusaha mengalahkan deru angin. "Gayanya cuek, tapi kelihatan gaul banget. Kalau gue deketin pakai pantun gombal, kira-kira dia luluh nggak?"
"Mending lo sadar diri. Daripada muka lo dicakar."
"Ah, lo pesimis amat jadi temen!"
"Temen yang baik itu mencegah temennya melakukan tindakan bodoh."
"Kalau begitu, mulai sekarang gue anggap lo bukan temen gue."
"Silakan. Tapi turun dulu dari motor gue kalau mau ngomong begitu."
Andi terkekeh.
"Jahat banget lo, Nyet!"
Sesampainya di area parkir kampus, Ricky dan Hari ternyata sudah lebih dulu tiba. Kami memarkir kendaraan, lalu mulai membawa perlengkapan menuju backstage.
Baru saja gue menurunkan standar motor, mata Andi berbinar melihat seorang cewek berambut pendek berjalan di dekat pintu masuk backstage.
"Eh, itu kan—"
Belum sempat Andi merapikan kerah baju untuk tebar pesona, Ricky sudah berbalik dan merentangkan tangan tepat di depannya. Wajahnya mendadak dingin.
"Mau ngapain lo?"
Andi menghentikan langkah.
"Mau... silaturahmi, Rik. Mempererat tali persaudaraan antarumat manusia," jawabnya dengan cengiran tanpa dosa.
Ricky mendengus.
"Langkahin dulu mayat gue kalau lo berani macam-macam sama Ina."
Andi langsung ciut. Dia menelan ludah, lalu melirik ke arah gue, meminta bantuan.
Gue mengangkat kedua tangan, pura-pura nggak kenal.
"Sadis amat, Bos," keluh Andi. "Cuma mau nyapa doang."
"Udah, jalan! Jangan godain sepupu gue!"
Andi menyusul sambil cemberut.
"Belum apa-apa udah diintimidasi. Dunia ini nggak adil buat cowok tampan."
"Lo yakin masalahnya di dunia?" sahut gue.
"DIEM!"
Backstage kampus Tasya cukup riuh. Panitia mondar-mandir membawa HT dan ID card, sementara kru sibuk memindahkan peralatan dari satu sisi panggung ke sisi lainnya.
Nggak lama kemudian, Tasya berlari kecil menghampiri kami dengan napas sedikit terengah.
"Abang! Akhirnya datang juga!"
Dia menyalami Ricky, lalu menyapa kami satu per satu.
"Sumpah, dari tadi panitia bagian rundown udah pusing nyariin kalian."
"Emang jadwal kita udah deket?" tanya Ricky.
"Belum, sih. Tapi kalian harus siap-siap dulu. Jangan sampe pas dipanggil malah masih sibuk nyetting alat."
Andi memasang gaya sok ganteng.
"Aman, Tas. Kita kan musisi profesional. Datang, pasang alat, terus mengguncang dunia."
Tasya memutar bola mata. Hari terkekeh, sementara gue cuma menggeleng melihat Andi tersenyum bangga dengan ucapannya sendiri.
"Oh iya," lanjut Tasya sambil menoleh. "Kenalin, nih, teman panitia kampus aku. Namanya Amel."
Seorang cewek berpenampilan rapi dengan senyum ramah melangkah maju.
"Halo, aku Amel."
Seketika perhatian Andi beralih total. Ina yang tadi diincarnya seolah langsung keluar dari pikirannya.
Dia berdiri lebih tegak dan menyambut Amel dengan senyum paling lebar.
"Halo, Amel! Gue Andi, vokalis The Funkies, sekaligus maskot band."
Amel tertawa kecil.
"Percaya diri banget, ya."
"Harus, dong. Kalau bukan gue yang mempromosikan diri sendiri, siapa lagi?"
Baru lima detik kenalan, udah mulai.
"Btw, bagian konsumsi sebelah mana, ya? Biar nanti gue bisa bantu kalau lo butuh pengawalan."
Amel menunjuk tenda di sisi lapangan.
"Di sebelah sana, Kak. Tapi nggak perlu dikawal, kok. Deket."
"Kalau begitu, gue temenin aja, ya? Siapa tahu perjalanan ke sana terasa lebih menyenangkan."
"Ya ampun, gercep banget," kata Amel sambil tertawa.
Gue, Ricky, dan Hari saling pandang. Kami sudah hafal pola Andi. Selama ada cewek yang menarik perhatiannya, kemampuan bicaranya bisa meningkat berkali-kali lipat.
Kehebohan itu terhenti ketika terdengar suara dari pintu masuk.
"Rik. Tas stik gue mana?"
Kami menoleh.
Ina berdiri di ambang pintu dengan kaus band kasual, celana pendek dan rambut bondol khasnya. Andi, yang baru saja hendak melanjutkan rayuannya kepada Amel, langsung menganga.
"Lo ngapain di sini?!"
Ina meliriknya sekilas.
"Suka-suka gue, lah. Emang ini kampus bapak moyang lo?"
Andi kehilangan kata-kata.
Tasya menghampiri Ina.
"Udah datang, Na? Band kalian main setelah jeda ganti alat berikutnya, kan?"
"Iya. Sebentar lagi."
Ina menoleh kepada Ricky.
"Rik, tas stik gue yang tadi dititipin di mana?"
Ricky menunjuk tumpukan perlengkapan di dekat dinding.
"Di situ!"
Ina mengangguk, lalu berjalan mengambil tasnya.
Otak Andi tampaknya masih sibuk mencerna keadaan.
"Tunggu... tunggu sebentar." Dia menunjuk Ina, kemudian menoleh kepada Ricky. "Jadi, cewek judes bin jutek ini anak band juga?!"
Ricky menepuk bahu Andi sambil menyeringai puas.
"Makanya, jangan suka menilai orang dari penampilannya doang. Ina itu drummer."
Gue ikut menjelaskan.
"Cleo itu band indie yang pernah gue ceritain. Personelnya Edo, Bimo, sama Ina. Mereka juga tampil hari ini."
"Dan lo baru ngasih tahu sekarang?!"
"Emangnya lo pernah nanya?"
Andi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ricky terkekeh.
"Jadwal mereka tepat satu sesi sebelum kita naik panggung. Jadi, kalau lo mau terus memperhatikan Ina, sekalian aja lihat permainannya."