Di sampingku yang berjalan menyesuaikan panjang langkah dengannya, Kado terus bergumam seorang diri.
Pasti dia sedang membayangkan berbagai situasi yang mungkin terjadi di neraka air dan memikirkan bagaimana caranya melindungiku.
Tiba-tiba, beberapa bunga merah kecil muncul sedikit di depan, dan Kado berlari menghampirinya seperti anak kecil.
Aku menyusulnya, lalu mengambil salah satunya dan mengamatinya baik-baik. Bunga itu bukan tumbuh pada tangkai, melainkan mekar di ranting kecil dan tampak seolah sedang terbakar. Mungkin waktu aku datang ke sini sebelumnya memang bukan musimnya.
“Bunga ini cocok denganmu.”
Aku mendekatkan kepala Kado ke bunga itu. Kucoba menyandingkan wajah Kado yang sempat terhuyung dengan bunga tersebut.
“Benar, cocok.”
Aku berkata sambil menatapnya lekat-lekat.
“Hei, hentikan.”
Kado berkata sambil menepis tanganku.
“Bukannya bunga merah seperti ini lebih cocok denganmu? Mirip api. Lagi pula……”