Dewa Keajaiban

白木
Chapter #16

Malam Terakhir #2

Ke arah yang ditunjuk Kado, ada sebidang tanah datar yang dipenuhi tak terhitung batu berbentuk seperti tabung-tabung heksagonal yang dipotong.

Untuk mengusir dingin dan gelap, aku membuat api di sana yang tidak goyah diterpa angin. Meski begitu, saat ini angin seakan telah menghapus keberadaannya sendiri, menyisakan hanya udara yang menegang begitu dingin hingga rasanya bisa disentuh.

Matahari sudah lama pergi menuju tempat berikutnya, dan di langit biru pucat, bulan yang tinggal satu garis lagi menuju purnama menggantung besar.

Laut ternyata lebih cocok dengan bulan. Padahal tadi ia masih bersaing sengit dengan matahari, tetapi sekarang terlihat seolah laut dan bulan saling memuji.

Bulan mengarahkan wajah lembutnya kepada laut, dan laut pun dengan senang hati memantulkan sosoknya sambil berombak. Bulan yang terlihat dari tempat lain juga indah, tetapi mungkin yang terlihat di sana hanyalah sisi wajahnya saat sedang memandang ke arah laut.

Ketika mengembalikan pandangan ke dekatku, Kado sedang menatap laut dengan senyum tipis di bibirnya. Karena tubuhku lebih tinggi, wajah Kado yang kulihat dari atas seperti inilah yang paling sering kulihat. Dari sudut ini, matanya sulit terlihat karena tertutup poni dan bulu matanya.

Sejak mulai menghabiskan waktu bersama Kado, aku jadi tahu bahwa mata justru lebih banyak berbicara ketika hanya terlihat sedikit dibanding saat dilihat lurus dari depan. Sekarang pun, mata Kado yang sesekali terlihat itu seolah mengatakan begitu banyak hal, tetapi maknanya saling tumpang tindih hingga justru tak ada satu pun yang bisa kubaca. Rasanya menjengkelkan sekaligus aneh.

Lihat selengkapnya