Kado menggelengkan kepala.
“Tidak. Tapi aku tidak akan terburu-buru. Lebih dari itu, ada sesuatu yang ingin kuminta.”
Kado kembali memasang wajah polos seperti biasanya, lalu berkata sambil berdiri.
“Keluarkan api. Yang bulat-bulat di atas laut, kira-kira sepuluh.”
“Tiba-tiba sekali. Boleh. Tapi kenapa mendadak begitu?”
Aku bertanya sambil berpindah mencari tempat yang lebih mudah untuk melihat seluruh permukaan laut.
Kalau terlalu maju ke depan, Kado akan memarahiku dengan berkata, “Bahaya,” jadi aku berhati-hati.
Bulan kini berada sedikit lebih jauh daripada tadi, mengubah warnanya dari emas menjadi perak sambil berbincang dengan laut.
Bulan benar-benar seperti dewa itu sendiri. Sempurna, tetapi tetap memiliki bagian yang kurang. Matahari, baik berada jauh maupun dekat, terus membakar dirinya dengan benar, dewa mutlak yang membuat manusia bersuka dan berduka hanya karena suasana hatinya. Sedangkan bulan, sambil memeluk kecemasan, bahkan mengubah wujudnya menjadi bintang yang seolah sama sekali berbeda, lalu bergetar di dalam laut—dewa yang begitu menggemaskan.
Di sampingku yang sedang terpikat oleh bulan, Kado berkata,
“Rasanya aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Ukuran apinya…… kira-kira sebesar saat kau merentangkan kedua tangan. Buat melayang tidak beraturan, dekat dengan permukaan laut.”
Ternyata permintaannya cukup banyak.