Entah bagaimana kami berhasil berlari sampai ke ujung tanpa terjatuh di medan berbatu yang dipenuhi batu besar dan kecil. Akhirnya kami tiba di tempat datar yang terdiri dari bebatuan lembap bercampur sedikit pasir.
Tinggal beberapa detik lagi. Kalau terus berlari dengan kecepatan ini, kami akan sampai di gerbang batu.
Apa gerbang itu terbuat dari jenis batu yang sama dengan bebatuan di neraka api? Batu putih yang memantulkan cahaya dalam kilau-kilau kecil itu entah kenapa terasa begitu akrab. Padahal ini bukan situasi untuk merasa lega. Lebih penting lagi, kaki Kado penuh luka. Kalau masuk ke air laut dengan kondisi begitu, pasti akan perih.
Tanpa sadar aku menarik Kado yang sedang berlari agar berhenti, lalu mengangkatnya ke dalam pelukanku dengan kedua tangan.
“Apa yang kau lakukan! Jangan hentikan aku!”