Tanah di bawah kaki kami menghilang.
Sejujurnya, aku tidak takut jatuh. Seperti apa rasanya laut, sesuatu yang baru pertama kali kukenal?
Sesaat sebelum kukira akan menyentuh permukaan laut, tubuhku membentur sesuatu yang lembut. Lalu aku hampir tergelincir jatuh, dan buru-buru mencengkeram sebagian dari benda lembut itu. Entah bagaimana, aku berhasil tidak menjatuhkan Kado.
“Eh? Eh?”
Sejak tadi Kado di dalam pelukanku terus mengulang satu huruf “eh” seperti orang bodoh. Ketika aku mengangkat wajah, tepat di depanku ada wajah rubah yang luar biasa besar.
“Eh?”
Aku pun ikut bersuara. Setelah memastikan kami baik-baik saja, rubah raksasa itu segera kembali menghadap ke depan.
—Rubah ini…… melayang?