Rubah perak itu perlahan mengurangi kecepatannya, lalu berhenti.
Di tengah padang rumput yang luas. Rubah itu duduk dengan anggun, dan kami meluncur turun dari punggungnya yang besar ke tanah.
Pertama-tama aku ingin membelainya. Berkat dia, kami benar-benar tertolong.
Tepat saat aku mulai berjalan ke arah kepalanya, rubah itu berbalik dengan cepat lalu menerjang kami. Aku dan Kado terjatuh telentang di atas rerumputan biru, kemudian rubah itu menindih kami dari atas.
Saat rubah besar itu sedikit membuka mulutnya, aku benar-benar mengira kami akan dimakan, tapi rubah milik dewa tidak mungkin memakan iblis dan pria yang identitasnya tidak diketahui. Dengan lidah merahnya yang kasar, ia menjilati aku dan Kado bergantian. Geli.
Kado tertawa cekikikan sambil berguling-guling. Padahal wajah…… atau lebih tepatnya seluruh tubuh kami dijilati lidah hewan, entah kenapa aromanya justru enak. Sama sekali tidak ada bau binatang. Bahkan napas yang keluar dari hidungnya yang basah beraroma lembut.
“Endo, anak ini punya luka di atas matanya.”
Kado berkata sambil menyentuh bagian tebal telinga rubah itu.
Memang benar, di atas kelopak matanya ada bekas luka menyakitkan yang mengikuti garis mata. Aku tidak menyadarinya karena tertutup bulu lebat. Kado mendekatkan wajahnya ke luka itu.
“Di mata seindah ini. Kasihan sekali, apa tidak sakit?”