Saya pun menanyainya sambil terengah-engah, tak kalah dari Famido. Saat orang itu menatap ke arah saya, saya langsung tahu bahwa dia adalah iblis. Karena udara yang menyelimutinya begitu sempurna. Hanya saja, di mata indahnya terpancar kemarahan yang kuat, dan saya menjadi takut.
Namun, pikiran seperti itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya, saya sudah berlari menghampiri Famido.
Iblis itu dengan mudah memberi tempat kepada saya. Famido memalingkan wajah dari saya dan bahkan tidak mengeluarkan suara.
Utusan memang seperti itu. Mereka menahan diri agar dewa tidak panik dan bertindak nekat. Kalau menyangkut utusan, dewa bisa kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang keterlaluan. Bahkan keberadaan diri sendiri pun bisa menjadi tidak penting. Padahal kalau wujud utama sampai menghilang, semuanya akan sia-sia, tetapi para dewa memang penuh kontradiksi.