Dewa yang tiba-tiba muncul itu perlahan berdiri di depan iblis tersebut menggantikanku.
Aku sempat cemas, jangan-jangan iblis itu akan mengayunkan Gajiea ke arah dewa tersebut. Namun, iblis itu hanya menatap wajah sang dewa lekat-lekat dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak.
Dalam kegelapan, dewa dan iblis itu saling mengatakan sesuatu di dekat telinga satu sama lain, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, iblis tersebut menyimpan Gajiea, tetapi saat itu aku merasa seolah warna kemarahan kembali menyala di matanya.
Terakhir, iblis itu sekali lagi membisikkan sesuatu kepada sang dewa, melirik Famido, lalu perlahan membalikkan badan dan menghilang dengan tenang ke dalam kegelapan.
Saat dewa yang tadi berhadapan dengan iblis itu menoleh ke arahku, sesaat wajahnya tampak seperti cermin, dan aku pun mengerti.