Saat akhirnya bertemu Shiroki-san yang sebenarnya dan ditatap lurus olehnya, saya sampai sempat lupa bernapas. Di atas putih matanya yang jernih tanpa keruh, ada iris seperti bulan purnama hitam yang mengambang, dengan lembut memantulkan diri saya. Setelah perawatan selesai, Shiroki-san berkata begini.
“Aku harus kembali ke gerbangku. Besok kau masih ada di sini? Bolehkah aku datang menemuimu?”
Shiroki-san akan datang menemuiku?
Saat itu saya sedang memikirkan bagaimana caranya menyampaikan bahwa saya ingin bertemu lagi dengannya. Karena jantung saya berdebar terlalu kencang, suara saya menjadi kecil, tetapi akhirnya saya berhasil berkata.