Shiroki-san menatap saya. Mata siapa pun akan terlihat indah ketika terkena cahaya matahari, tetapi mata Shiroki-san tampak berkilau dan memikat.
Ketika dia tersenyum kepada saya dengan mata itu, tatapannya memang menenangkan, tetapi pada saat yang sama hati saya ikut terguncang dan membuat saya merasa cemas.
“Lain kali Rukiru-kun yang datang menemuiku. Saat musim dingin nanti, akan ada festival untukku di sebuah kota pelabuhan di pulau utara yang berada di seberang laut. Dulu aku tidak terlalu sering datang ke sana, dan rasanya aku sudah berbuat tidak baik kepada manusia. Karena itu, sekarang aku ingin sebisa mungkin datang menemui mereka. Rukiru-kun suka tempat yang menghadap laut, jadi kupikir tempat itu cocok. Laut musim dingin juga akan cocok denganmu. Aku ingin kau memindahkan gerbangmu ke dekat gerbangku.”
Tentu saja saya tidak mungkin menolak. Bisa menghabiskan musim dingin bersama Shiroki-san. Hati saya begitu bersemangat membayangkan akan membuat bulan paling indah yang pernah saya ciptakan bersinar di langit dingin dan memperlihatkannya kepada Shiroki-san.