Ketika cahaya baru mulai terpantul padaku dan burung-burung mulai ribut, akhirnya Shiroki-san selesai beristirahat.
Dengan kimono putihnya yang berantakan, Shiroki-san meregangkan tubuh dan hendak keluar dariku. Rambutnya juga acak-acakan karena tidur.
“Shiroki-san, rapikan sedikit dirimu. Nanti dewa bulan jadi kecewa padamu.”
Shiroki-san tertawa masih dengan penampilan berantakan.
“Benar juga. Aku harus bersikap seperti seorang kakak.”
Seberantakan atau sekotor apa pun dirinya, Shiroki-san selalu diselimuti udara yang suci, jadi sama sekali tidak terasa tidak menyenangkan. Malah begitu indah sampai rasanya ingin terus memantulkannya.
Tapi kalau kukatakan hal seperti itu, Shiroki-san yang ceroboh pasti akan senang lalu terus saja membiarkan dirinya kotor, jadi aku tidak akan pernah memberitahunya. Kalau sampai manusia melihatnya, wibawa seorang dewa akan hilang.
Sebagian tubuhku—kubus cermin—mencair, lalu Shiroki-san keluar.