Keesokan sorenya, di tanjung yang tertutup tipis salju putih, sambil melihat matahari tergesa-gesa menghilang di balik gunung di sisi seberang, aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Shiroki-san. Udara khas waktu ini, saat malam seolah akan datang tetapi belum juga benar-benar tiba, justru semakin membuatku cemas. Salju berbutir besar pun mulai turun.
—Shiroki-san, cepatlah kembali.
Tak lama kemudian, terdengar beberapa langkah kaki berlari sambil menggesek salju dengan bunyi zas, zas. Yang pertama terlihat adalah Shiroki-san, datang ke arahku sambil bergandengan tangan dengan seorang anak laki-laki manusia.
Aku langsung tahu bahwa dia bukan sedang bergembira karena menjadi akrab dengan manusia lalu menarik tangannya sambil berlari.
Wajah Shiroki-san kaku, dan dia menggenggam tangan manusia itu begitu kuat sampai memerah. Sedangkan manusia yang tangannya ditarik, meskipun kakinya saling tersandung dan berjalan terhuyung-huyung, ekspresinya justru terlihat lebih tenang daripada Shiroki-san.
“Shiroki-san, kau sedang apa? Anak itu siapa?”
Tepat sesaat setelah aku memanggilnya, tiga bayangan hitam muncul dari belakang mereka. Tidak, tepatnya, mereka tidak memiliki wajah. Di dalam bayangan yang hanya samar-samar terlihat berbentuk manusia, cahaya putih kecil berkelip seolah mengalir.
……Hantu? Shiroki-san, apa kau sedang dikejar mereka?
Lalu dari belakang mereka muncul seorang iblis mengenakan kimono hitam.