Aku membawa Shiroki-san, Gajiea, dan jiwa anak itu menuju lubang pusat neraka.
Entah sejak kapan, Shiroki-san sudah mencabut Gajiea dari tubuhnya, tetapi darah di lantai cermin tidak bertambah.
“Shiroki-san, syukurlah. Tubuhmu sepertinya masih bisa diperbaiki.”
“Ya, tubuhnya akan kuperbaiki. Tapi sepertinya jiwaku tidak akan bisa dipulihkan sepenuhnya. Begitu sampai di lubang pusat, aku akan meninggalkan tubuhku dan pergi ke surga hanya dengan jiwa.”
“Meninggalkan tubuhmu?”
“Ya. Tubuhku akan kuberikan kepadamu. Kau boleh menggunakannya sesukamu.”
Shiroki-san berkata sambil membelai lantai diriku dengan lembut.
……Tubuh Shiroki-san?
Jangan-jangan dia sengaja membiarkan dirinya tertusuk Gajiea supaya bisa menyerahkan tubuhnya kepadaku? Karena kalau tidak sampai berada dalam keadaan di mana tubuhnya tidak lagi dibutuhkan, aku tidak akan mau menerimanya?