Shiroki-san
Bulan berdesir, berbagai sensasi berserakan di dalam kegelapan musim gugur, dan aku tersentak lalu menengadah ke langit.
Dewa bulan, rubah perak, darah, Gajiea, dan pemandangan iblis berkimono hitam terpantul pada pecahan-pecahan cermin lalu menari di udara. Aku harus pergi. Aku mengejar sensasi itu dan berlari mendaki gunung.
Hal pertama yang kulihat adalah sosok Naito yang menggenggam Gajiea. Sesaat tubuhku tidak bisa bergerak, seolah lumpuh.
—Apa yang kau lakukan di sini?
Di depan Naito yang membawa Gajiea, ada rubah perak raksasa yang darahnya mengalir dari kelopak mata, sementara dewa bulan memeluknya erat sambil berusaha menghentikan darah itu. Melihatnya, aku teringat Kado, lalu sambil menahan detak jantung yang semakin cepat, aku bergumam pelan.
“Naito, kenapa kau cuma berdiri di sana seperti itu? Kau bisa disalahpahami. Kalau sampai kau dihapus, aku tidak mau tahu.”
Dilihat dari kondisi utusannya, sepertinya masih bisa diperbaiki. Untuk sekarang, aku harus menanyakan apa yang terjadi kepada Naito. Sebelum dewa bulan ikut campur, aku berkata, “Kamu tetap di sini,” lalu mendekati Naito sampai wajah kami hampir bersentuhan.
“Shiroki, sudah lama.”
Naito berkata dengan suara dingin yang terdengar jelas.
“Kau sedang apa?”
Mendengar kata-kataku, mata di balik bulu mata panjang Naito bergoyang sedikit sedih.
“Tidak ada salam sama sekali? Dingin sekali. Kado baik-baik saja? Biarkan aku bertemu dengannya.”
Benar, Kado sangat menyukai orang ini. Dia mirip denganku, tetapi lebih tinggi dariku, bisa diandalkan, dan tidak mudah terguncang seperti diriku. Saat Kado pernah berkata, “Naito itu seperti versi sempurna Shiroki-san,” aku sampai memikirkannya selama berhari-hari.