Salju berbutir besar mulai turun dengan lembut. Pandangan dipenuhi bercak-bercak putih.
“Shiroki-san, apa Anda tidak mengeluarkan darah?”
Matsuri-kun tiba-tiba berkata sambil mengembuskan napas yang warnanya sama dengan salju.
“Eh? Ah, tubuhku memang bukan tubuh seperti itu, jadi tidak apa-apa.”
Begitu, ya. Sulit terlihat karena salju, tetapi batu-batu di sekitar kami memang semakin banyak. Karena lukanya akan segera menutup, aku terus berlari tanpa memedulikannya, tetapi mungkin tubuhku sudah penuh luka. Bahkan sebelum itu pun, dia pasti merasa aneh karena sejak tadi aku tidak pernah sekalipun terpeleset di jalan bersalju.
Itulah sebabnya aku menggenggam tangan Matsuri-kun meskipun membuat kami lebih sulit berlari.
Kalaupun kau terluka, aku akan segera menyembuhkanmu. Meskipun tubuh ini akan menghilang beberapa menit lagi, aku tidak akan membiarkannya ternoda sedikit pun.
Suara laut yang bergelombang, kedalaman salju, dan aroma Kado semakin kuat.
“Naito, kita akan bertemu Kado.”
Aku menjadi senang dan menoleh ke belakang. Di tengah pemandangan yang perlahan diwarnai biru tua malam, wajah Naito yang diterangi cahaya salju terlihat indah.
“Ya. Aku senang kau juga terlihat begitu bahagia.”
Sudut bibir Naito mengendur saat mengatakan itu. Aku ingin menyalahkan sesaknya napasku pada kenyataan bahwa aku sedang berlari.
Kado selalu saja bermanja kepada Naito yang bisa diandalkan.
Padahal terhadapku dia selalu saja khawatir.