“Pada dasarnya, gerbang adalah benda. Kecuali gerbang ini. Gerbang ini hanya tidak memiliki kehendak, tapi ia hidup. Benar begitu, kan, Kado-san?”
Rukiru-kun menjawab lebih dulu.
“Yah, begitulah. Karena bagian yang dulu merupakan tubuhku juga tergabung di dalamnya, ia memang tidak punya jiwa, tapi bisa dibilang hidup.”
Aneh. Sulit dipercaya makhluk hidup bisa ada dalam keadaan seperti itu. Aku menelusuri dengan lembut permukaan cermin yang memantulkan diriku.
“Kau bilang dodekahedron beraturan, kan. Boleh kutanya sekali lagi? Di sisi paling atas benda ini ada pintu menuju surga, ya?”