Cermin yang diterangi cahaya putih dari dalam ruang itu mulai beriak. Kalau lantainya mencair, apa Kado tidak akan jatuh?
Di bawah kaki Kado yang telah berdiri, permukaannya tampak seperti tertutup ombak putih di tepi pantai.
Lalu dari tempat itu, dia mengulurkan tangan kepadaku sambil tersenyum.
“Endo, kemarilah ke tempatku.”
Dengan hati-hati aku melangkahkan kaki ke dalam ombak putih keperakan itu. Rasa dingin yang nyaman dan sensasi seolah kakiku akan tersapu dari bawah menjalar ke tubuhku. Kado meraih lenganku dan menarikku mendekat kepadanya.
“Ini baru kedua kalinya iblis berpindah seperti ini, jadi aku khawatir apa yang akan terjadi padamu. Jangan menjauh dariku.”
Kedua kalinya? Yang pertama berarti iblis cermin itu. Rupanya dia memang sedikit demi sedikit mulai mengingat masa lalu yang sangat jauh.
“Jangan menjauh darimu, ya. Bisa diandalkan juga kau. Baiklah.”
Entah kenapa aku merasa bangga.
“Rukiru-kun, sudah siap untuk berpindah? Aku akan membuka pintu menuju dunia manusia.”
Bersamaan dengan ucapan Kado, angin kencang berembus dari bawah kaki kami.
Pintunya telah terbuka tanpa suara.
“Shiroki-san lebih suka yang tenang.”
Kado bergumam seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Saya akan melewatkan gerbang saya.”
Begitu Rukiru-kun berkata demikian, gerbang batu itu mengeluarkan suara berderit seperti mesin besar, lalu melayang sejajar dengan lantai dan berhenti. Sesaat kemudian, gerbang itu menembus lantai yang bergelombang dengan kecepatan tinggi. Gelombang besar terbentuk di permukaan cermin. Sambil melawan angin kencang yang bertiup dari bawah, gerbang Rukiru-kun melesat keluar menuju dunia manusia.
“Tolong lompat setelah saya.”
Rukiru-kun meluncur turun mengikuti jejak yang ditinggalkan gerbang.